Kelompok Anggrek,
Desa Krebet, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun

Kelompok Anggrek, adalah kelompok perempuan sortase dan petani kedelai hitam dari Desa Krebet. Untuk sementara ini, ibu-ibu yang bergabung dalam kelompok masih terbatas pada warga Rt 01. Kedepan, jika terbukti program ini memberikan manfaat yang cukup signifikan pada masyarakat, akan ada perluasan anggota atau kelompok ke rt lain atau desa lain yang, walaupun tidak menjadi tenaga sortasi, juga turut menanam kedelai hitam. Mayoritas anggota Kelompok Anggrek adalah buruh tani dengan pendapatan tidak menentu dan tingkat pendidikan rendah. Ibu-ibu ini selain sebagai buruh tani juga menjadi buruh usaha kerajinan tas, tenaga sortasi kedelai hitam, dan peternak tradisional.
Peternak tradisional disini bukan difahami sebagai pekerjaan utama yang dapat mendatangkan hasil kontinyu. Ternak, bagi masyarakat adalah sebuah aset yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau kebutuhan jangka menengah/panjang. Karena tidak memiliki pendapatan tetap dari pekerjaannya sebagai buruh, keluarga petani mengandalkan hasil ternak untuk memenuhi kebutuhannya. Biasanya suami istri akan berbagi peran, jika keluarga memiliki sapi dan kambing, yang bertugas untuk menggembalakan dan mencarikan rumput untuk kambing adalah istri, sedangkan suami bertugas mengurus sapi. Tetapi jika hanya memiliki kambing saja, istri dan suami sama-sama bertugas mencarikan rumput atau menggembalakan kambing. Kesimpulannya, ibu-ibu anggota juga memiliki tugas utama mencarikan rumput untuk pakan ternak. Di luar kegiatan buruh, mencari rumput ini menghabiskan waktu antara 3-4 jam sehari.
Kesibukan ibu-ibu membantu suami mencari nafkah, tidak berbanding dengan pendapatan yang diperoleh. Pendapatan Rp. 20.000/hr hanya mereka dapatkan pada saat musim tanam/panen. Wajar, jika kehidupan ekonomi anggota Kelompok Anggrek jauh dari kata berkucupan. Ibu-ibu sangat berharap ada pekerjaan alternatif (
side job) yang dapat memberikan penghasilan tetap, walaupun itu hanya berkisar antara Rp. 1000/5000 sehari.
Berlandaskan motivasi mendapatkan hidup lebih baik, ibu-ibu membentuk kelompok dan berusaha mencapai tujuan tersebut bersama-sama. Mereka merencanakan bersama, berlatih kemampuan teknis secara mandiri dan otodidak, serta mengelola dan memasarkan usaha yang mereka rencanakan untuk peningkatan taraf hidupnya. Koordinator kelompok ini adalah Ibu Suparmi, ibu rumah tangga sederhana yang selama ini hanya mengenal dunia tani dan sama sekali belum memiliki pengalaman berbicara di depan umum, apalagi mengatur banyak orang untuk suatu tujuan, jadi bisa dibayangkan bagaimana sulitnya beliau ketika pertama kali harus mengorganize ibu-ibu anggota kelompok, berbicara di depan mereka untuk menyampaikan sebuah informasi, mengarahkan dan memberi mereka motivasi. Kendala yang dihadapi Ibu Suparmi tidak hanya minimnya pengalaman, tetapi juga rasa tidak percaya diri akan pendidikannya dan keterbatasan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun demikian, Ibu Suparmi dan kader lainnya terus bergerak.
Mengumpulkan ibu-ibu juga menjadi persoalan tersendiri, apalagi pada saat musim panen dan tanam, nyaris sepanjang hari semua anggota kelompok berada di sawah, bahkan terkadang di malam hari mereka juga pergi ke sawah. Hanya karena semangat saja, mereka mampu menyisihkan waktu untuk berkumpul. Tidak bisa rutin, tetapi diupayakan setiap ada hal yang perlu dibicarakan, Ibu Koordinator mengundang anggota. Pada saat sibuk itu, transfer informasi dan ilmu juga berlangsung di sawah, hal-hal penting sering dibahas di sawah ketika mereka bekerja atau sedang istirahat, seperti distribusi informasi dan ilmu hasil ToT antara kader dan anggota.
Ketika rencana usaha sudah disepakati, yaitu produksi kerupuk puli dan tempe, kendala selanjutnya adalah bagaimana kelompok mampu memproduksi dan memasarkannya. Nilai tambah kelompok ini adalah kekompakan dan semangat tinggi yang dimiliki koordinator dan kader. Jadi, ketika dana stimulan belum cair, koordinator dan kader berinisiatif melakukan pelatihan sendiri yang dilaksanakan pada pertemuan rutin kelompok (arisan). Dana dan alat ditanggung oleh koordinator. Pelatihan pertama gagal karena banyaknya perbedaan pendapat anggota dalam membuat kerupuk puli. Pelatihan kedua, kerupuk puli yang dihasilkan tidak bisa mengembang sempurna ketika digoreng. Koordinator dan kader kemudian berinisiatif mencoba sendiri, ternyata sukses. Tidak hanya itu, koordinator dan kader juga berinisiatif mencoba membuat tempe dari kedelai hitam. Inipun berhasil dengan baik. Oleh kader, tempe yang sudah jadi dijual seharga Rp. 800/buah ke tetangga, ternyata respon tetangga baik, buktinya semua tempe terjual habis. Tidak berhenti disini, Koordinator dan kelompok berinisiatif mengolah tempe menjadi balado tempe. Pada pertemuan rutin, tempe dan balado diinformasikan ke anggota, mereka memberikan masukan untuk memperbaiki citarasa balado dan menentukan harga jual balado. Pertemuan juga menghasilkan pembagian kerja antar anggota dalam pembuatan dan pemasaran kurupuk puli, tempe, balado tempe.

Sambil jalan, terus dilakukan penyempurnaan kualitas tempe, kerupuk puli, dan balado tempe. Keahlian membuat ketiga produk tersebut juga disharekan kepada anggota dalam pelatihan yang dilaksanakan pada pertemuan arisan. Saat ini, usaha yang berjalan dengan baik adalah produksi dan pemasaran tempe kedelai hitam, balado ternyata kurang diminati karena harga Rp. 2000/bungkus mika kecil menurut masyarakat terlalu mahal, padahal untuk ukuran pasar di Kabupaten Madiun, harga Rp.2000/bungkus balado itu sudah sangat murah sekali.
Volume tempe yang dihasilkan kelompok naik turun, pada musim tanam dan panen, produksi berhenti, dimulai lagi setelah kegiatan di sawah selesai. Pembagian hasil dilakukan setiap hari produksi, yaitu untuk tenaga produksi, tenaga pemasar, modal, dan kas kelompok. Dari 3 Kg kedelai hitam, keuntungan yang dimasukkan dalam kas kelompok sebesar Rp. 2.500, untuk tenaga pemasar Rp. 100/batang tempe, dan untuk tenaga produksi sekitar ±Rp. 1250/orang.
Kesimpulan sementara dari perkembangan Kelompok Anggrek adalah semakin kuatnya harapan untuk mendapatkan hidup lebih baik dalam diri anggota melalui usaha tempe yang mereka kelola.
Kondisi Ekonomi KelompokPendapatan rumah tangga kelompok diperoleh dari pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani. Di luar musim panen dan tanam, keluarga tidak memiliki sumber pendapatan kecuali sebagai tenaga sortase dan pembuat tas. Tetapi, kedua kegiatan tersebut tidak bersifat rutin karena tergantung pada musim dan pesanan. Pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sortase atau tas sebesar Rp. 1.000/hr, hanya cukup untuk membeli tempe satu bungkus. Dengan kondisi ekonomi seperti ini makanan sehari-hari kelompok adalah tempe/tahu, nasi, sayur dan terkadang hanya berupa nasi dan sayur saja. Ikan, Ayam, atau daging menjadi menu yang hanya dijumpai pada saat hajatan dan hari raya.
Pada saat tidak ada pendapatan, kelompok memenuhi kebutuhan dari menjual simpanan gabah/beras atau menjual hewan ternak. Setiap keluarga memiliki hewan ternak berupa ayam dan kambing atau sapi. Jumlah hewan ternak yang dimiliki antara 3-5 per keluarga tergantung dari jenisnya. Bagi kelompok, hewan ternak adalah investasi jangka panjang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya darurat atau membutuhkan banyak dana seperti pendidikan, pernikahan, atau pengobatan.
Pendapatan dan pekerjaan yang sangat terbatas itulah yang menyebabkan kehidupan sebagain besar masyarakat berada di bawah garis kemiskinan, beberapa indikator yang dapat dilihat adalah rumah terbuat dari papan atau anyaman bambu, lantai terbuat dari tanah, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/minyak tanah, ditambah dengan kondisi jalan desa berupa jalan makadam, dan tanah.
Dengan segala kekurangan dan potensi yang dimiliki ibu-ibu inilah P3KH dilaksanakan. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi ibu-ibu serta mendorong mereka untuk mampu mengelola usaha. Setelah hampir 3 bulan berjalan, perkembangan P3KH dan ibu-ibu yang telah kami dampingi dan latih dapat digambarkan sebagai berikut:
Kelompok Melati, Dusun Wates, Desa Kedung Banteng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten MadiunKegiatan rutin kelompok adalah yasinan, arisan dan pertemuan rutin untuk membahas perkembangan usaha kelompok. Setiap pertemuan selalu dihadiri oleh seluruh anggota kelompok, kecuali anggota yang izin karena sakit atau ada keperluan keluarga.
Kelompok yang dikoordinatori oleh Ibu Suparti ini sejak terbentuk telah memiliki keinginan kuat untuk lepas dari kesulitan keuangan yang mereka hadapi, menurut carita ibu-ibu, di luar masa panen mereka terbiasa hanya makan 1 kali setiap hari atau makan tanpa lauk. Awalnya memang sedikit sulit untuk menumbuhkan semangat seluruh anggota untuk maju, tetapi dengan bukti, Ibu Suparti sedikit demi sedikit mencoba untuk menumbuhkan hal tersebut. Pendamping juga selalu memberikan motivasi dan membuka wawasan anggota mengenai manfaat dari pengembangan usaha kelompok. Jika mereka mau berusaha, tetap semangat dan tidak mudah menyerah, kesempatan untuk memperoleh pendapatan minimal 3 rb/hari secara rutin bukanlah sesuatu yang mustahil. Apalagi sudah terbukti pada Ibu Sulastri, pembuat Tempe.
Kembali kepada keinginan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, ibu-ibu sudah membuat rencana untuk mengelola usaha kelompok setelah kesibukan di sawah menurun. Waktu luang ibu-ibu dimulai sejak akhir Bulan April 2009. Walaupun belum ada dana stimulant, kelompok telah mencoba untuk memulai Produksi Tempe, Jamu, dan Keripik Tempe.
Pertanyaannya darimana mereka memiliki modal usaha? Dan darimana mereka tahu proses produksinya?
Modal usaha mereka dapatkan dari swadaya kelompok, setiap kelompok kecil urunan untuk percobaan produksi pertama. Ketika percobaab pertama gagal, mereka tidak patang arang dan terus mencoba sampai produk yang mereka hasilkan layak jual. Walaupun untuk satu kali produksi kebutuhan dana tidak terlalu besar, berkisar antara 15-30 ribu, kesadaran mereka untuk swadaya dan terus berusaha menjadi lebih baik patut diacungi jempol. Dalam diri ibu-ibu, sama sekali tidak terlihat orientasi memperoleh keuntungan sesaat yang bersifat negative seperti:
“saya mau aktif jika waktu yang saya keluarkan diganti dengan uang oleh program”, “ saya mau usaha jika program memberi saya modal yang cukup”, “saya tidak bisa memulai usaha karena uang yang diberi oleh program terlalu sedikit dan tidak cukup untuk modal yang saya butuhkan”, dan beragam sikap negative yang sering dijumpai pada saat pendampingan program pemberdayaan masyarakat.

Telah tumbuh semangat “kebersamaaan” yang ditunjukkan dengan pembagian kerja, dalam satu kelompok hanya ada satu orang yang membuat satu produk, yang lain bertugas untuk memasarkan. Sesama anggota boleh memberi masukan untuk memperbaiki kualitas produksi anggota lain. Mereka telah memulai impelementasi asas transaparansi dan komunikasi terbuka. Hebatnya semua anggota menyadari pentingnya keterbukaan dalam berkomunikasi, demi kebaikan kelompok, mereka memilih sikap lebih baik menyampaikan langsung walaupun sedikit menyakitkan daripada disimpan di hati dan dibicarakan dibelakang. Selain karena pertimbangan “kebersamaan’ spesialisasi usaha dilaksanakan karena pertimbangan kemudahan pemasaran produk, tidak mungkin ada banyak orang yang memproduksi satu usaha di pasar yang terbatas seperti di daerah lokasi program. Mereka juga memiliki sikap “legawa” artinya siapapapun dalam kelompok tidak boleh iri dengan anggota yang terlebih dahulu sukses, karena siapapun dalam kelompok harus saling tolong menolong, bahu membahu untuk meningkatkan kesejahteraan semua anggota kelompok.
Kemampuan produksi diperoleh secara otodidak. Untuk produksi tempe, Ibu Sulastri - pembuat tempe dari anggota kelompok melati - mendapatkan informasi tersebut dari ibu-ibu Nganjuk pada saat ToT Manajemen dan Pengembangan Kelompok yang diselenggarakan oleh manajemen program pada 24-25 Februari 2009 lalu. Begitu memiliki waktu luang, Ibu Sulastri mencoba membuat dan berhasil. Dorongan untuk mencoba juga diperkuat dengan adanya informasi turunnya dana stimulant, awalnya Ibu Suslatri membuat 2 kg. Setelah dana stimulant diterima, produksi ditingkatkan menjadi 6 Kg/hari dan berkembang menjadi 8 Kg/hr. Total sampai dengan Tgl 18 Mei 2009, ibu Sulastri telah memproduksi tempe selama 10 hari dengan jumlah produksi pada 5 hari pertama sebanyak 2 Kg/hr, jumlah produksi pada hari ke enam 6 Kg, dan jumlah produksi pada hari ke 7 sampai dengan Tgl 18 sebanyak 8 Kg/hr.
Pemasaran; Untuk sementara di jual sendiri dan dititipkan ke sesama anggota yang berjualan keliling kampung.
Tempe Kedelai Putih: Setiap 1 Kg kedelai menghasilkan 10 bungkus tempe yang dijual seharga Rp. 1000, keuntungan yang diperoleh untuk setiap 1 Kg nya adalah Rp. 1500. Berarti keuntungan total yang diterima dari 8 Kg kedelai yang diproduksi sebesar Rp. 12.000/hari. Keuntungan tersebut kemungkinan bisa bertambah, karena Ibu Sulastri masih berencana memperbesar volume produksi pada saat suami Ibu Sulastri membantu pemasaran dengan bersepeda keliling desa/kecamatan.
Menurut kelompok, saat ini tempe yang dibuat oleh Ibu Sulastri sudah menggeser pasar tempe produksi lain. Selain unggul volume, tempe Ibu Sulatri juga lebih enak karena terbuat dari kedelai murni, tidak seperti tempe yang ada di pasaran saat ini, tempenya terdiri dari campuran jagung dan kedelai. Ketika melihat ukuran tempe yang sangat besar, kami mengarahkan untuk sedikit memperkecil seperti ukuran tempe seharga Rp.1000 di Surabaya, Ibu Sulastri tidak mau karena itu adalah permintaan konsumen, Ibu Sulastri berani mengambil sedikit keuntungan asalkan konsumen puas.
Jamu; Pada saat produksi perdana jamu, modal yang dihabiskan sebesar Rp. 17.500. Menghasilkan jamu sebanyak 10 botol dengan harga perbotol Rp.2.000. Berarti keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.2.500. Akan tetapi keuntungan ini masih bisa tingkatkan karena jamu yang dihasilkan sangat kental dan sebenarnya cukup untuk dijadikan 15-20 botol. Rencana, akan dipasarkan dengan menggunakan sepeda berkeliling kampung setelah suaminya kembali dari rantau. Kedepan, kelompok berencana membuat minuman Sinom dan akan dijual ke Sekolah Dasar yang ada di desa dengan harga Rp. 500/bungkus.
Keripik Tempe; Modal yang digunakan pada produksi pertama sebesar 25.000, menghasilkan 10 bungkus keripik tempe yang dijual seharga 2.500. Omzet yang diperoleh 25.000, walaupun tidak ada laba, masih ada sisa minyak ½ Kg, plastik, dan tempe 1 buah yang belum diambil. Jika dinominalkan, sebenanrnya masih ada sisa modal sebesar 7 ribu