Cerita Perjuangan 2
21.49 | Author: Mukarramah
Kelompok Anggrek,
Desa Krebet, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun


Kelompok Anggrek, adalah kelompok perempuan sortase dan petani kedelai hitam dari Desa Krebet. Untuk sementara ini, ibu-ibu yang bergabung dalam kelompok masih terbatas pada warga Rt 01. Kedepan, jika terbukti program ini memberikan manfaat yang cukup signifikan pada masyarakat, akan ada perluasan anggota atau kelompok ke rt lain atau desa lain yang, walaupun tidak menjadi tenaga sortasi, juga turut menanam kedelai hitam. Mayoritas anggota Kelompok Anggrek adalah buruh tani dengan pendapatan tidak menentu dan tingkat pendidikan rendah. Ibu-ibu ini selain sebagai buruh tani juga menjadi buruh usaha kerajinan tas, tenaga sortasi kedelai hitam, dan peternak tradisional.

Peternak tradisional disini bukan difahami sebagai pekerjaan utama yang dapat mendatangkan hasil kontinyu. Ternak, bagi masyarakat adalah sebuah aset yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau kebutuhan jangka menengah/panjang. Karena tidak memiliki pendapatan tetap dari pekerjaannya sebagai buruh, keluarga petani mengandalkan hasil ternak untuk memenuhi kebutuhannya. Biasanya suami istri akan berbagi peran, jika keluarga memiliki sapi dan kambing, yang bertugas untuk menggembalakan dan mencarikan rumput untuk kambing adalah istri, sedangkan suami bertugas mengurus sapi. Tetapi jika hanya memiliki kambing saja, istri dan suami sama-sama bertugas mencarikan rumput atau menggembalakan kambing. Kesimpulannya, ibu-ibu anggota juga memiliki tugas utama mencarikan rumput untuk pakan ternak. Di luar kegiatan buruh, mencari rumput ini menghabiskan waktu antara 3-4 jam sehari.

Kesibukan ibu-ibu membantu suami mencari nafkah, tidak berbanding dengan pendapatan yang diperoleh. Pendapatan Rp. 20.000/hr hanya mereka dapatkan pada saat musim tanam/panen. Wajar, jika kehidupan ekonomi anggota Kelompok Anggrek jauh dari kata berkucupan. Ibu-ibu sangat berharap ada pekerjaan alternatif (side job) yang dapat memberikan penghasilan tetap, walaupun itu hanya berkisar antara Rp. 1000/5000 sehari.

Berlandaskan motivasi mendapatkan hidup lebih baik, ibu-ibu membentuk kelompok dan berusaha mencapai tujuan tersebut bersama-sama. Mereka merencanakan bersama, berlatih kemampuan teknis secara mandiri dan otodidak, serta mengelola dan memasarkan usaha yang mereka rencanakan untuk peningkatan taraf hidupnya. Koordinator kelompok ini adalah Ibu Suparmi, ibu rumah tangga sederhana yang selama ini hanya mengenal dunia tani dan sama sekali belum memiliki pengalaman berbicara di depan umum, apalagi mengatur banyak orang untuk suatu tujuan, jadi bisa dibayangkan bagaimana sulitnya beliau ketika pertama kali harus mengorganize ibu-ibu anggota kelompok, berbicara di depan mereka untuk menyampaikan sebuah informasi, mengarahkan dan memberi mereka motivasi. Kendala yang dihadapi Ibu Suparmi tidak hanya minimnya pengalaman, tetapi juga rasa tidak percaya diri akan pendidikannya dan keterbatasan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun demikian, Ibu Suparmi dan kader lainnya terus bergerak.

Mengumpulkan ibu-ibu juga menjadi persoalan tersendiri, apalagi pada saat musim panen dan tanam, nyaris sepanjang hari semua anggota kelompok berada di sawah, bahkan terkadang di malam hari mereka juga pergi ke sawah. Hanya karena semangat saja, mereka mampu menyisihkan waktu untuk berkumpul. Tidak bisa rutin, tetapi diupayakan setiap ada hal yang perlu dibicarakan, Ibu Koordinator mengundang anggota. Pada saat sibuk itu, transfer informasi dan ilmu juga berlangsung di sawah, hal-hal penting sering dibahas di sawah ketika mereka bekerja atau sedang istirahat, seperti distribusi informasi dan ilmu hasil ToT antara kader dan anggota.

Ketika rencana usaha sudah disepakati, yaitu produksi kerupuk puli dan tempe, kendala selanjutnya adalah bagaimana kelompok mampu memproduksi dan memasarkannya. Nilai tambah kelompok ini adalah kekompakan dan semangat tinggi yang dimiliki koordinator dan kader. Jadi, ketika dana stimulan belum cair, koordinator dan kader berinisiatif melakukan pelatihan sendiri yang dilaksanakan pada pertemuan rutin kelompok (arisan). Dana dan alat ditanggung oleh koordinator. Pelatihan pertama gagal karena banyaknya perbedaan pendapat anggota dalam membuat kerupuk puli. Pelatihan kedua, kerupuk puli yang dihasilkan tidak bisa mengembang sempurna ketika digoreng. Koordinator dan kader kemudian berinisiatif mencoba sendiri, ternyata sukses. Tidak hanya itu, koordinator dan kader juga berinisiatif mencoba membuat tempe dari kedelai hitam. Inipun berhasil dengan baik. Oleh kader, tempe yang sudah jadi dijual seharga Rp. 800/buah ke tetangga, ternyata respon tetangga baik, buktinya semua tempe terjual habis. Tidak berhenti disini, Koordinator dan kelompok berinisiatif mengolah tempe menjadi balado tempe. Pada pertemuan rutin, tempe dan balado diinformasikan ke anggota, mereka memberikan masukan untuk memperbaiki citarasa balado dan menentukan harga jual balado. Pertemuan juga menghasilkan pembagian kerja antar anggota dalam pembuatan dan pemasaran kurupuk puli, tempe, balado tempe.

Sambil jalan, terus dilakukan penyempurnaan kualitas tempe, kerupuk puli, dan balado tempe. Keahlian membuat ketiga produk tersebut juga disharekan kepada anggota dalam pelatihan yang dilaksanakan pada pertemuan arisan. Saat ini, usaha yang berjalan dengan baik adalah produksi dan pemasaran tempe kedelai hitam, balado ternyata kurang diminati karena harga Rp. 2000/bungkus mika kecil menurut masyarakat terlalu mahal, padahal untuk ukuran pasar di Kabupaten Madiun, harga Rp.2000/bungkus balado itu sudah sangat murah sekali.

Volume tempe yang dihasilkan kelompok naik turun, pada musim tanam dan panen, produksi berhenti, dimulai lagi setelah kegiatan di sawah selesai. Pembagian hasil dilakukan setiap hari produksi, yaitu untuk tenaga produksi, tenaga pemasar, modal, dan kas kelompok. Dari 3 Kg kedelai hitam, keuntungan yang dimasukkan dalam kas kelompok sebesar Rp. 2.500, untuk tenaga pemasar Rp. 100/batang tempe, dan untuk tenaga produksi sekitar ±Rp. 1250/orang.

Kesimpulan sementara dari perkembangan Kelompok Anggrek adalah semakin kuatnya harapan untuk mendapatkan hidup lebih baik dalam diri anggota melalui usaha tempe yang mereka kelola.
|
This entry was posted on 21.49 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: