KTP HILANG
20.35 | Author: Mukarramah
Pengajuan permohonan bantuan dana pengembangan usaha dari kelompok perempuan kepada Yasayan Unilever Indonesia diwarnai cerita menarik. Berdasarkan kesepakatan tidak tertulis antara YUI dengan SPeKTRA mengenai prosedur pencairan dana, kelompok disyaratkan untuk membuat surat kuasa pengajuan permohonan pencairan dana, penerimaan dana, dan pendistribusian dana bantuan tersebut. Ketika salah satu Koordinator kelompok sebagai pemberi kuasa hendak membuat surat kuasa, ada satu data yang tidak bisa diisi, yaitu no KTP. Ketika kelompok lainnya sudah selesai, si ibu masih kebingungan dengan data no KTP. Pasalnya, KTP si ibu "ketlisut" alias lupa naruhnya dimana. emmm, itu berarti si Ibu lama tidak menggunakan KTP-nya. Bandingkan dengan kita yang tinggal di kota, hampir setiap saat membutuhkan KTP, mau ambil uang di bank pakai KTP, mau pengajuan kredit pakai KTP, mau ambil tiket pakai KTP, ditilang polisi kadang menunjukkan KTP, nginep dan bayar hotel pakai KTP, dan ada banyak hal lain yang membutuhkan KTP. Jadi pada saat kita nggak pegang KTP (expired atau hilang) pasti kebingungan dan akhirnya cepat-cepat membuat KTP baru.

Bagaimana dengan kehidupan di desa..??? jarang sekali KTP dipakai, paling-paling kalau mau nikah aja. Ke bank..?? jangankan untuk buka tabungan, untuk nabung uang cash seribu setiap hari saja ibu-ibu kesulitan, selain pendapatan pas-pasan, kalau nabung uang cash katanya suka kepancing untuk ngambil...jadi mereka memilih menabung dalam bentuk hewan atau barang, seperti ayam, gabah, kambing, jagung, dll.

Kembali ke pembicaraan mengenai KTP, saya menyarankan si ibu untuk mencari identitas lain seperti SIM atau Buku nikah, biasanya kan ada no KTP di Buku nikah. Kata si Ibu, SIM nggak punya, karena kemana-mana menggunakan jalan kaki, pergi jauh...?? jarang, paling-paling dapat undangan Unilever dan SPeKTRA, itupun naik kendaraan umum bareng-bareng. Buku Nikah...??? KTP lama yang tertera di buku nikah nomornya beda dengan KTP baru yang "ketelisut" tersebut, kok bisa...??? terus bagaimana dong...?? yah, terpaksa kami memutuskan, khusus untuk kelompok tersebut tidak menggunakan no identitas, yang penting yang menerima kuasa, datanya lengkap.

Mengenai no KTP lama dan baru yang beda, memang saya tidak habis pikir. Kok bisa ya...?? harusnya kan nomornya sama, berarti ada yang tidak beres nih dengan pengadministrasian di pemerintah desa, karena biasanya perizinan pengajuan perpanjangan KTP dimulai dari tingkat rt, rw, kelurahan/desa baru ke kecamatan. Maklum saja DPT pada pileg ini kacau balau, salah satu contohnya adalah si ibu. Jadi menurut saya, pendapat para politisi yang menyatakan ada permainan/penggelembungan suara secara sistematis dari penguasa, kurang setuju. Nyatanya, selain contoh kecil perbedaan no ktp lama dan baru dari si ibu, banyak masyarakat yang memiliki KTP ganda bahkan triple. Ke depan, jika semua unsur masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk perbaikan negeri ini, seharusnya dilakukan pembenahan data penduduk, nantinya penyusunan DPT dapat berdasarkan KTP saja, tidak perlu di data ulang setiap mau pemilihan umum, karena hanya menghabiskan banyak uang negara. Memang membutuhkan kerjasama antar stakeholder yang baik, waktu, sistem, dan dana cukup banyak di awal. Jika sudah tertib, manfaatnya pasti akan banyak, jauh lebih efisien dan efektif.
Cinta Lelaki Biasa (True Story)
01.25 | Author: Mukarramah
Posted on March 19th, 2008 by cipta
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.
Hidup Bahagia vs Hidup Susah
22.54 | Author: Mukarramah

Ada seorang teman yang merasa hidupnya sangat sulit, selalu mengeluh dan mengeluh setiap waktu. Melihat wajahnya, serasa kita diundang juga untuk menyelami dan merasa betapa sulitnya hidup ini. Wajah kusam dan kuyu itu hampir tidak pernah terlihat tersenyum. Kami sangat berempati dan sering bertanya, ada apakah....??? dalam pandangannya, semua yang terjadi dalam hidupnya adalah penderitaan dan kesulitan. Sebaliknya, ada seorang teman yang wajahnya terlihat selalu bergembira. Sepertinya dia sangat bahagia dan tidak pernah menghadapi kesulitan, hidupnya serasa sangat mudah. Karena selalu bersama, saya tahu bagaimana dia.

Sebenarnya tidak ada bahagia dan susah dalam hidup ini, itu hanyalah bentuk respon kita dalam menghadapi kenyataan. Akan kita permudah ataukah persulit..? apapaun respon yang kita berikan, hidup toh tetap akan berjalan. Tinggal kita memutuskan untuk menghadapinya dengan perasaan enteng atau berat? jika kita menganggap bahwa itu adalah kegagalan, kesulitan dan kesusahan, kita pasti akan merasa dunia itu begitu sempit, sangat tidak bahagia, hidup itu begitu susah, bahkan untuk sekedar bernafas saja begitu sesak.
Padahal sebenarnya kenyataan itu tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kalau kita mau melihat lagi, ada banyak jalan keluar disana, karena Allah selalu memberikan sesuatu berpasangan, ketika kita dikasih kesulitan pasti sekaligus dikasih jalan keluarnya. Bukankah begitu..? Tinggal kita mau mencarinya ataukah tidak?? Jangan berhenti hanya pada masalahnya saja.

Sekarang, bagaimana sih agar kita merasa bahagia menghadapi hidup ini..?? coba deh tips ini.

Bangun pagi; berjalanlah keluar rumah. Rasakan hangatnya sinar matahari, hiruplah dalam-dalam udara pagi yang sejuk, rasakan segarnya. tatap birunya langit di pagi hari. Kalau sudah merasa nyaman, gerakkan badan dengan santai. Kemudian masuk rumah dan mandilah.

Mandi; rasakan sejuknya air, nikmati dan ucapkan rasa syukur karena Allah masih memberikan kita air, bayangkan kalau tiba-tiba kita hidup di daerah seperti Afrika sana yang tandus dan tidak ada air, untuk minum saja susah apalagi untuk mandi dengan air jernih yang segar dan murah......he he

Berangkat kerja; selama perjalanan, pikirkan alangkah bahagianya anda bisa pergi bekerja, mencari uang dan mendapatkan gaji. Hidup anda tidak kosong karena selalu ada rencana yang akan anda kerjakan, hidup anda memiliki arah. Bayangkan seandainya anda adalah pengangguran, selain tidak punya uang, pasti anda kebingungan karena tidak tahu mau melakuka apa sehari ini.

Ditempat kerja; sapa teman kerja dengan senyum, mereka pasti akan membalas dengan senyum juga. Point bagus kan...? anda sudah mendapatkan rerspon manis dan menyenangkan. Kerjakan tugas anda dengan semangat "give high performance for your job".
Dimarahi bos...?? ah, anggap itu bentuk perhatian dari bos, daripada dianggap "wujuduhu kaadamihi" sehingga tidak pernah disapa? jangan berharap penghargaan dari bos, karena biasanya "high expectation" akan mengakibatkan kita merasa sangat kecewa. jadi ketika suatu saat dipuji, itu adalah rezeki, betul nggak???
Tiba-tiba dikasih setumpuk pekerjaan plus waktunya mepet? syukuri itu, berarti anda dipercaya dan itu menjadi ajang anda mengetes kemampuan anda sendiri, bisa tidak...?? hidup anda dipenuhi dengan target, hidup menjadi bermakna. Bayangkan perasaan puas anda seandainya mampu menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu..??

Uang habis, padahal waktu gajian masih lama...?? ini sering terjadi pada karyawan kayak kita, gimana ya...?? kalau aku malah termotivasi untuk mengatur uang yang ada hingga cukup sampai akhir bulan. Kadang sih marah-marah juga, tapi tidak apa-apa asalakan tidak merasa hidup sudah berakhir disini. Kalau pas ada kebutuhan mendadak?? ya hutang aja sama teman, gampang kan...?? bayarnya gimana dong, kan gaji udah pas-pasaan..?? berarti bulan berikutnya siap-siap mengencangkan ikat pinggang. kalau nggak punya ikat pinggang....?? kok malah ngaco sich.

Jadi, kesimpulan dari tips-tips di atas adalah, berikanlah respon positif untuk hal apapun yang terjadi dalam hidup kita. Pikirkan hal baik-baik, kalau hidup kita sudah susah, jangan ditambahi dengan pikiran yang jelek-jelek yang membuat kita tambah terpuruk. Sama sekali tidak ada gunanya, hidup hanya sekali. So, janganlah dibuat susah, orang susah itu cepat tua lho.....!!! perbanyaklah bersyukur, pasti awet muda.

Koordinasi dengan kader di Kabupaten Madiun dilaksanakan Tanggal 24 Maret 2009. Roma, Lilik, Fadhil, dan Mimin sangat sangat berterimakasih kepada kader, karena ditengah kesibukannya bekerja di sawah mereka masih bisa menyempatkan diri hadir pada rapat koordinasi tersebut. Karena tidak ingin merepotkan ibu-ibu, jauh-jauh hari kami sudah berpesan bahwa konsumsi rapat akan disediakan oleh manajement dari Surabaya. Surprise....??? sesampainya di rumah Pak Agus (tempat koordinasi), ternyata banyak makanan sudah dihidangkan, lho...??? seakan mengetahui keheranan kami, Bu Katini bilang bahwa konsumsi rapat telah disediakan oleh Bu Agus..aduh baiknya istri Ketua KSU ini yahhhh??? seakan ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan dan perhatiannya dalam mendukung program ini.

OKe, setelah "ucapan terimakasih dan sambutan" disampaikan oleh Mas Fadhil, langsung menuju agenda utama, yaitu diskusi tentang rencana kegiatan, kendala, dan rencana usaha kelompok. Kami meminta masing-masing kelompok untuk menceritakan kendala implementasi ToT, kegiatan apa yang sudah dilaksanakan dan kegiatan apa yang akan direncanakan.

Kelompok Mawar dari Desa Kedung Banteng, Ketua Bu Katini

Kegiatan yang sudah dan akan dilaksanakan oleh kelompok ini adalah:
Sosialisasi hasil ToT: beberapa hari setelah ToT dilaksanakan, kader mengumpulkan anggota kelompok untuk menyampaikan hasil ToT dan membahas tentang kegiatan apa yang akan dilaksanakan oleh kelompok. Kelompok menyepakati beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan setelah musim tanam selesai.

Arisan & Tabungan Sukarela: rencana akan dilaksankan pada Bulan April, melibatkan seluruh anggota kelompok dengan jumlah uang sebanyak Rp.2000/orang. Arisan bertempat di rumah Bu Katini dan akan diselenggarakan 2 minggu sekali pada hari Minggu. Selain untuk arisan, pertemuan ini juga digunakan untuk mengumpulkan tabungan sukarela dari seluruh anggota. Tabungan yang terkumpul akan digunakan untuk dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan, total pinjaman per anggota maksimal Rp.100.000.

Pengajian/Yasinan: kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan oleh ibu-ibu selama 3 tahun terakhir. Seperti biasanya, pengajian dilaksanakan setiap 2 minggu sekali pada malam rabu, tempatnya bergilir di setiap rumah anggota.

Usaha Jahit dan Keripik: ada beberapa orang dalam kelompok yang memiliki mesin jahit, kelompok sepakat usaha ini dijadikan usaha bersama. Usaha ini akan dimulai setelah ada pelatihan peningkatan kualitas produksi. untuk permulaan, mereka akan menjahit beberapa produk sesuai denga pesanan pembeli. Hasil dari usaha tersebut akan disisihkan untuk kas kelompok. Selain jahit, kelompok juga berencana untuk membuat usaha keripik pisang, ini tidak membutuhkan pelatihan karena mereka sudah bisa memproduksi.

Kelompok Anggrek dari Desa Krebet, Ketua Bu Suparmi
Pengajian; pengajian yang dimaksud adalah membaca yasin bersama-sama, dilaksanakan 2 minggu sekali setiap malam jum'at.

Arisan dan Tabungan Sukarela: Arisan dan tabungan dilaksanakan 2 minggu sekali pada hari minggu. Jumlah uang arisan Rp. 2000/orang. Sedangkan jumlah tabungan sukarela disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota. Tabungan sukarela yang terkumpul juga akan dipinjamkan kepada anggota, setiap bulan akan digilir dengan jumlah pinjaman sesuai dengan jumlah tabungan (tidak ada batasan maksimal).

Kerupuk Uyel; kelompok memutuskan memilih usaha kerupuk uyel karena beberapa alasan: (i) kerupuk menjadi bagian dari makanan pokok keluarga, (ii) masyarakat di Kecamatan Pilangkenceng belum ada yang memproduksi kerupuk uyel sendiri, untuk membeli kerupuk mereka harus menunggu pedagang kerupuk yang datang kadang 3 hari sekali. Karena mereka belum pernah membuat kerupuk uyel, jadi kelompok berharap ada pelatihan tentang usaha ini.

Kelompok Melati Dari Desa Kedung Banteng, Ketua Ibu Suparti
Kelompok ini juga melaksanakan kegiatan rutin sama dengan kelompok lainnya, yaitu yasinan dan tabungan sukarela. Mereka tidak mengadakan arisan karena merasa arisan terlalu sering dilaksanakan di lingkungan sekitar mereka. Untuk rencana kegiatan usaha, kelompok Bu Suparti berencana untuk mengelola home industri tempe dan jamur merang. Selain berbiaya murah (sebagain besar bahan baku bisa diperoleh dengan gratis), ibu-ibu sudah bisa membuat tempe sendiri. Untuk home industri tempe ini mereka akan segera memulai begitu panen selesai, modalnya berasal dari swadaya anggota. Sedangkan untuk usaha merang, mereka menunggu pelatihan (belum ada yang bisa). Karena kedua usaha ini termasuk usaha kelompok, maka mereka akan berbagi tugas, sebagian kelompok mengelola usaha tempe dan sebagian lagi mengelola usaha merang. Tempat usaha ada di satu lokasi, yaitu di rumah Bu Suparmi (tempe) dan rumah Bu Kasiani (jamur merang). Dalam pengelolaannya, mereka akan melakukannya dengan sistem piket. mengenai pembagian keuntungannya??? bagi ibu-ibu tidak penting memikirkan pembagian keuntungan saat ini, yang penting usaha jalan dulu, kalau sudah berjalan dengan baik, baru hal itu dipikirkan.

Kelompok Kamboja dari Desa Kedung Banteng, dipimpin oleh Ibu Sutilah
Kegiatan kelompok ini sama seperti kelompok lainnya yaitu yasinan, arisan, dan tabungan sukarela. penggunaan tabungan sukarela akan digunakan untuk membantu anggota kelompok yang membutuhkan. Rencana usaha berupa usaha keripiik diantaranya singkong dan pisang. Karena sudah memiliki keahlian dalam produksi keripik, mereka menyatakan tidak membutuhkan pelatihan, jadi jika ada uang hibah dari Unilever akan digunakan untuk tambahan produksi. Sebagai awal, modal usaha berasal dari urunan anggota, jadi mereka akan memulai usaha ini setelah musim tanam selesai.