
Tanggal 23 dan 24 Maret 2009, Manajamen Program bersama dengan pendamping dan kader di masing-masing lokasi program melakukan koordinasi penyusunan rencana kegiatan kelompok dan implementasi hasil ToT.
Koordinasi dengan kader Kabupaten Nganjuk bertempat di kantor kepala desa Kampung Baru. Hadir pada koordinasi Tanggal 23 Maret 2009 tersebut 8 orang kader dari 3 kelompok perempuan, Ibu Kepala Desa Kampung Baru, pendamping dan 3 orang manajemen program. Mengapa Ibu Kepala Desa hadir? Sebagaimana yang telah kami ceritakan, Kepala Desa Kampung Baru memiliki perhatian yang tinggi terhadap pemberdayaan masyarakatnya. Beliau sangat mendukung program ini dan mempersilahkan kelompok untuk menggunakan kantor kepala desa sebagai tempat beraktivitas kelompok (rapat, koordinasi, pertemuan). Kepala Desa juga mendorong istrinya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan, termasuk aktif dalam kegiatan kelompok (walaupun Ibu Kades tidak termasuk anggota), selain dapat mengasah kemampuan dan melatih kepercayaan diri Ibu Kades untuk berbicara di depan umum, kehadiran Ibu Kades juga dapat memberikan motivasi tersendiri bagi kelompok.
Wonderfull...!!, itulah kata yang tepat yang kami punya untuk mengapresiasi semangat yang ditampakkah kader, ditengah kesibukan panen dan tanam, ibu-ibu ternyata masih menyempatkan diri untuk melaksanakan kegiatan kelompok. Bahkan, kelompok telah memulai aktivitasnya seminggu setelah ToT, kira-kira Tanggal 2 maret 2009. Kader mengumpulkan anggota untuk menyampaikan hasil ToT dan merencanakan kegiatan kelompok. Ada 3 kegiatan rutin kelompok yaitu:
Arisan dan jimpitan; arisan dilaksanakan satu bulan sekali dengan jumlah uang Rp 10.000, Di Mukoh, kelompok mengadakan arisan seminggu sekali dengan jumlah uang Rp 5.000. Tempat arisan bergilir di rumah tiap-tiap anggota.
Jimpitan dilaksanakan dalam bentuk "menyisihkan segenggam beras atau menyisihkan uang belanja Rp 500 - Rp 1.000 setiap hari".
Jimpitan tersebut dikumpulkan ke koordinator kelompok pada saat arisan, selanjutnya uang yang terkumpul diberikan secara bergilir kepada seluruh anggota. Tujuan arisan dan jimpitan adalah membantu meringankan kebutuhan anggota kelompok dengan cara gotong royong.
Tabungan sukarela; Menabung sukarela (istilah yang digunakan kader) adalah kegiatan menyisihkan uang dengan jumlah sesuai kemampuan anggota (sukarela) yang bertujuan untuk saling membantu kesulitan yang dihadapi anggota kelompok. Tabungan sukarela dikumpulkan ke koordinator atau kader lain yang ditunjuk, setelah ada salah satu anggota yang tertimpa musibah atau kesulitan, kelompok akan memberikan bantuan dengan memberikan sejumlah uang/barang yang diambilkan dari tabungan sukarela kelompok. Jadi dengan adanya tabungan sukarela ini, anggota kelompok diharapkan tidak mengambil jalan "berhutang" untuk mengatasi masalah keuangannya.
Tabungan sukarela, jimpitan, dan arisan perlu dicatat dengan baik agar tidak terjadi konflik di kemudian hari. Kader menyatakan bahwa mereka perlu diberikan bimbingan dalam "pencatatan/pembukuan". Ini tugas pendamping dong....atau ada pihak lain yang ingin membantu perempuan...?? kami dengan senang hati akan menerimanya :)
Apotik Hidup/Penanaman Toga; Penanaman toga dilakukan di satu lahan khusus yang diakui sebagai milik bersama (biasanya di lahan salah satu anggota), bisa juga dikelola oleh masing-masing kader atau biasa disebut kelompok kecil (dalam kelompok ada 4-5 kader yang membawahi 4-5 anggota, kader beserta anggotanya inilah yang disebut kelompok kecil). Kelompok kecil menanam 2-3 tanaman toga yang berbeda dengan tanaman toga yang dtanam oleh kelompok kecil lainnya dalam satu kelompok besar. Sementara ini, tujuan penanaman toga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga anggota, kedepan, jika hasilnya banyak, kelompok akan menjualnya dalam bentuk bahan baku atau produk olahan, seperti jamu instan/bubuk atau minuman. Dari 3 kelompok perempuan, kelompok dari Desa Gambirejo dan Kujon Manis telah mulai mananam tanaman toga, kelompok dari Desa Kampung Baru masih mempersiapkan lahan, Kelompok dari Desa Mukoh masih akan membahas persiapannya dengan anggota.
Rencana Usaha; Kelompok perempuan dari Desa Gambirejo/Kujon Manis dan kelompok perempuan dari Desa Mukoh berencana untuk mengembangkan budidaya lele. Alasannya, budidaya lele tidak membutuhkan lahan luas (karena medianya hanya berupa tong, air, dan lumpur), perawatannya mudah, dan ada pasar yang siap menyerap hasil produksi mereka (antara lain pasar ikan yang ada di kecamatan, bakul ethek-ethek, pasar tradisional, warung makan). Tetapi karena sebelumnya belum ada anggota kelompok yang melakukan budidaya lele, mereka meminta diadakan pelatihan pembuatan media dan cara perawatan lele. Kelompok semakin yakin dengan usaha ini karena melihat keberhasilan budidaya lele di Pare, Kediri yang dilakukan anak salah satu kader dari Desa Mukoh. Lokasi budidaya akan dipusatkan di satu tempat dengan melibatkan seluruh anggota kelompok dalam perawatannya.
Kelompok perempuan Desa Mukoh juga berencana untuk mengembangkan tanaman Rosela, saat ini telah disiapkan lahan khusus milik salah satu anggota yang akan ditanami rosela. Karena sudah memiliki pengalaman, kelompok merasa tidak membutuhkan pelatihan. Penanaman dan perawatan rosela akan melibatkan seluruh anggota kelompok dengan sistem piket. Pemasaran rosela relatif mudah karena ada beberapa suplier yang siap menampung rosela hasil budidaya kelompok.
Kelompok perempuan dari Kampung Baru berencana membuat usaha budidaya jamur tiram dengan alasan mudah mendapatkan bahan baku media, mudah dipasarkan, dan sebagai tambahan gizi keluarga. Mereka berencana untuk mengelola usaha tersebut melalui kelompok-kelompok kecil dengan sistem piket.

ToT Manajemen Kelompok dan Keuangan Rumah Tangga dilaksanakan Tanggal 24-25 Februari 2009 bertempat di Gedung Diklat Pemerintah Kota Madiun, Jl Duku No. 1, Gulun, Kabupaten Madiun. Kegiatan yang dihadiri oleh 34 kader dari Kabupaten Madiun dan Nganjuk ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan PKH mengenal peran dan potensi dirinya, mampu mengelola organisasi dengan baik, serta mampu mengelola keuangan rumah tangga dengan bijak sebagai prasyarat menjadi keluarga mandiri dan berdaya.
Output yang diharapkan dari pelaksanaan ToT adalah:
1. Peserta dapat memahami tujuan, manfaat berkelompok dan cara mengelola kelompok dengan baik.
2. Peserta menyadari peran dan potensinya dalam keluarga sehingga lebih termotivasi untuk meningkatkan perannya bagi kesejahteraan keluarga.
3. Meningkatnya motivasi peserta untuk berkelompok dan mengembangkan kelompok.
4. Peserta memahami alasan pentingnya mengelola keuangan rumah tangga dengan baik dan cara membuat anggaran keuangan rumah tangga.
5. Peserta memiliki sikap bahwa membuat anggaran rumah tangga, disiplin terhadap anggaran dan menabung itu penting bagi terwujudnya keluarga yang mandiri dan berdaya.
ToT dilaksanakan dengan metode diskusi, games, dan simulasi. Digunakannya games dalam penyampaian materi bertujuan agar kondisi pelatihan menjadi nyaman dan menyenangkan bagi peserta, sehingga timbul semangat dan gairah untuk mengikuti pelatihan. Digunakannya metode diskusi dan simulasi bertujuan untuk menciptakan situasi bahwa pengalaman, pengetahuan, dan ide peserta sangat berharga dan penting. Ketika merasa dihargai, peserta menjadi lebih percaya diri dan berani menyampaikan pendapat dan ide, diskusi berjalan hidup karena seluruh peserta melibatkan diri secara aktif. Pada akhirnya, proses pembelajaran akan berjalan dengan sangat efektif karena peserta cepat menyerap pengetahuan dan keahlian yang ditransfer dalam ToT, bukan hanya pengetahuan teoritis, juga keahlian teknis yang diperoleh dari "belajar dari pengalaman".
Pelaksanaan ToTAcara ToT dimulai dengan Pengorganisasian Kelas. Fasilitator menjelaskan tentang bagaimana pelatihan akan dilaksanakan, apa saja materinya, siapa fasilitatornya, siapa pesertanya, dengan metode apa materi akan disampaikan, serta menetapkan peraturan selama pelatihan berlangsung. Peraturan yang disepakati adalah:
a. Tidak boleh terlambat; jika terlambat dikenakan hukuman menyanyi sambil berjoget.
b. Tidak boleh mengantuk/tidur didalam kelas
c. Tidak boleh menerima telepon di dalam ruangan kelas
d. Setiap keluar kelas harus meminta izin kepada ketua kelas/fasilitator
Kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya .......selama pelatihan tidak terlihat satupun peserta yang mengantuk, menerima telepon di dalam ruangan kelas, keluar kelas karena izin apapun (entah taat atau karena begitu tertariknya dengan pelatihan, padahal menurut cerita sebagian besar peserta, mereka tidak bisa tidur karena masuk angin, maklum mayoritas peserta tidak terbiasa dengan AC, namun begitu, tidak satupun yang komplain atau izin ke kamar belakang di hari pertama pelatihan, dan tidak satupun peserta yang terlambat memasuki ruang pelatihan, rata-rata mereka hadir 20-30 menit sebelum materi dimulai. SALUT deh buat ibu-ibu,HEBAT......!!!!
Setelah peraturan disepakati, waktunya sesi perkenalan diri. satu persatu fasilitator dan peserta memperkenalkan diri dalam bentuk permainan “KU TAHU YANG KU MAU”. Peserta dari Nganjuk dan Madiun diminta untuk berpasangan dan diberi waktu 5 menit untuk berkenalan. Fasilitator, secara acak memanggil satu nama peserta. Nama yang dipanggil maju ke depan audience bersama pasangannya untuk memperkenalkan diri dengan cara melakukan gaya tentang dirinya dan harus ditebak oleh pasangannya. Setelah selesai, pasangan tersebut menunjuk pasangan yang lain, begitu seterusnya. Permainan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kedekatan peserta dan meningkatkan kemampuan komunikasi non verbal. Pasangan yang mampu menebak paling banyak memperoleh hadian dari fasilitator. Permainan ini berjalan cukup seru, melihat ibu-ibu bergaya sungguh menyenangkan, apalagi melihat wajah kebingungan ibu-ibu ketika berusaha menebak. gelak tawa seketika pecah melihat gaya kocak ibu-ibu, suasana beku sebelumnya langsung meleleh. Sangat menyenangkan tertawa bersama ibu-ibu.
Peserta semakin bersemangat dan bergairah ketika Ibu Maya Tamimi (Yayasan Unilever Indonesia) dan Pak Roni S. Sya'roni (Direktur SPeKTRA) membuka sesi dengan menyampaikan materi CSR dan Motivasi dengan sangat menarik. Senyum, keramahan dan joke yang ditampilkan oleh beliau-beliau menjadi magnet yang langsung membetot perhatian peserta, ditambah dengan yel-yel pembangkit motivasi yang diberikan oleh pak Roni “AKU MAU SUKSES!” merupakan
sarting point yang sangat bagus bagi pelaksanaan ToT.
Situasi dan kondisi awal pelatihan sudah sangat kondusif, untuk menjaga kondisi tersebut fasilitator selalu menyisipkan
ice breaker di setiap sesi. Seperti permainan “TANGKAP KUCING” berikut.

Peserta berdiri melingkar, telunjuk tangan kanan dan kiri diletakkan dibahu, setiap mendengar kata kucing dalam cerita yang disampaikan oleh fasilitator, tangan kanan peserta berusaha menangkap telunjuk kiri peserta yang berdiri disebalah kanannya sambil berusaha menghindar agar telunjuk kirinya tidak dapat ditangkap peserta yang berdiri disebelah kirinya. Cerita tersebut kadang menjebak peserta, sehingga yang disangka akan diucapkan kucing ternyata kata meong atau hewan yang bersuku kata “ku”. Begitu tahu terjebak, kami semua tertawa, tetapi kembali berkonsentrasi menyimak cerita sambil bersiap-siap “menangkap” dan “menghindar”, begitu mendengar kata ”kucing” serentak peserta berusaha menangkap telunjuk teman disebalah kananya dan berusaha dengan beragam cara menghindar agar telunjuk kiri tidak ditangkap, ada yang menyembunyikan telunjuk kirinya dibalik ketiak, dibelakang badan, atau mengacungkan telunjuknya setinggi mungkin. Sebaliknya, yang lain juga berusaha menangkap dengan beragam cara, jadi kadang terlihat beberapa rangkaian orang yang sudah berhasil menangkap dan ditangkap terpontang-panting karena satu orang yang ada diujung berusaha agar telunjuk kirinya tidak tertangkap, atau segerombolan ibu-ibu yang muter-muter karena berusaha menangkap telunjuk temannya yang diumpetin dibelakang punggung. Sangat menghebohkan, ramai dan dipenuhi tawa. Secapat kilat menangkap dan sekuat tenaga menghindar, wah ibu-ibu....melihatnya dalam situasi demikian tidak menyangka bahwa sebagian besar dari mereka sudah berusia uzur.
Sesi Pengembangan KelompokDalam sesi "Pengembangan Kelompok", peserta diberi penjelasan teori tentang kelompok, pengembangan kelompok, dan unsur-unsur kelompok. Teori-teori tersebut selanjutnya disimulasikan dalam sebuah permainan kelompok berjudul “OPER PENSIL”.
Peserta dibagi 4 kelompok dengan anggota masing-masing 8 orang. Mereka diberi tugas untuk mengoper pensil dengan menggunakan dua jempol. Sebelum dimulai, kelompok diberi waktu berkoordinasi memikirkan strategi jitu untuk memenangkan permainan. Fasilitator sengaja memberikan instruksi kurang jelas di awal permainan, ketika 2 regu sudah mulai berlomba, fasilitator sedikit demi sedikit memperjelas instruksi, satu kelompok gagal karena bingung dengan instruksi yang diberikan fasilitator. Babak selanjutnya, instruksi dan aturan permainan diberikan dengan jelas kepada 2 regu yang berlomba. 2 regu tersebut ternyata gagal di tengah jalan (pensil jatuh). Karena hanya ada satu regu yang berhasil, fasilitator berniat mengulang kembali perlombaan kedua regu tersebut. Keputusan ini langsung diprotes oleh regu yang kalah dibabak pertama, mereka bersikeras melarang karena pensil jatuh berarti gagal, sebaliknya 2 regu yang merasa keputusan tersebut menguntungkan bersikeras untuk diulang, satu pihak menganggap keputusan fasilitator tidak adil, satu pihak mendukung fasilitator. Akhirnya Fasilitator tetap pada keputusan melanjutkan perlombaan. Setelah permainan selesai, fasilitator meminta
peserta untuk merangkum hasil permainan, termasuk bagaimana cara kelompok menyelesaikan konflik seperti yang terjadi dalam permainan tadi. Peserta dengan cepat menyebutkan apa saja yang harus dimiliki oleh kelompok, diantaranya adalah: kerjasama yang baik, anggota harus kompak, ada koordinasi dan komunikasi, memiliki strategi, aturan kelompok harus jelas, konflik harus cepat/segera diatasi dengan baik, sikap saling mengalah antar anggota untuk kepentingan bersama.
Sesi Manajemen Ekonomi Rumah TanggaSesi “Manajemen Ekonomi Rumah Tangga” disampaikan dengan menggunakan metode simulasi. Fasilitator mengajak peserta untuk menyadari betapa pentingnya membuat perencanaan keuangan rumah tangga. Dengan menggunakan metode simulasi, fasilitator menyadarkan peserta bahwa manusia akan menghadapi kejadian yang diharapkan dan tidak diharapkan, manusia memiliki kebutuhan saat ini dan akan datang. Apa yang dilakukan peserta ketika menghadapi kejadian yang tidak diharapkan dan apa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjangnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diminta untuk menelusuri kebutuhan/pengeluaran dalam periode tertentu dan menelusuri sumber-sumber penghasilan dalam periode tertentu. Pada saat diminta menelusuri peserta agak kesulitan, karena selama hidup peserta tidak terbiasa berpikir darimana pendapatannya dan kebutuhan kedepan apa saja, mereka terbiasa dengan pola pikir mencari makan untuk hari ini dan dihabiskan untuk hari ini. Memang agak berat mengajak peserta, apalagi yang belum pernah mengecap bangku sekolah untuk berpikir tentang pendapatan dan pengeluaran. Walaupun harus pelan-pelan, akhirnya mereka bisa menelusuri pendapatan dan pengeluarannya. Dari hasil penelusuran tersebut, peserta kemudian diajak untuk membuat perencanaan keuangan (penganggaran). Anggaran keuangan rumah tangga dapat menjadi
guidance bagi perempuan untuk mengatur pendapatannya dengan bijak. Mengenai kesadaran menabung, sudah mereka lakukan dalam bentuk gabah, hewan ternak, dan arisan. Mereka kurang menyukai menabung dalam bentuk uang karena selalu tergoda untuk mengambilnya. Kesimpulan dari sesi ini adalah; (i) peserta telah memiliki kesadaran menabung dan sebagian besar menggunakan “tabungan’nya untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang/menghadapi kejadian yang tidak diinginkan, (2) peserta masih belum sepenuhnya menyadari bahwa perencanaan keuangan itu perlu dan menganggap perencanaan keuangan itu rumit, oleh karena itu masih perlu pendampingan dan penyadaran lebih lanjut yang dilakukan secara terus menerus oleh pendamping.
Sesi Penyadaran Peran dan Potensi PerempuanDalam sesi “Peran dan Potensi” Fasilitator mengajak peserta untuk mengenal perannya dalam keluarga melalui “melihat kembali kedalam diri untuk mengenal siapa saya dalam keluarga” kemudian menuliskan dan membacakan peran apa yang mereka ketahui. Ternyata mayoritas peseta hanya menyadari perannya sebagai ibu dan istri saja. Fasilitator menunjukkan gambar-gambar dalam slide untuk menuntun peserta mengetahui bahwa peran perempuan selain ibu dan istri adalah pengelola rumah tangga, pencari nafkah, dan pekerja dalam satuan rumah tangga. Sampai kepada eksplorasi peran perempuan sebagai ibu (slide menampilkan puisi disertai nyanyian “bunda”), suasana benar-benar sunyi dan mulai terlihat beberapa peserta menitikkan airmata, ketika fasilitator mendeklamasikan puisi tersebut beberapa peserta terlihat menangis. Untuk menghentikan keharuan, fasilitator melontarkan pertanyaan “apa perasaan peserta ketika mendengar puisi dan lagu tersebut”. Mereka menjawab terharu dan ingin merubah dirinya, tidak ada kata terlambat untuk berubah dan memperbaiki diri, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Seorang ibu dari Madiun menyatakan bahwa ketika mendengar lagu tersebut ia teringat kepada anaknya yang bekerja di luar negeri dan perhatian yang diberikan untuk ibunya walaupun terpisah jarak yang sangat jauh. Saat ibu tersebut berbicara sambil tersendat-sendat tidak hanya peserta yang terbawa suasana, kedua Fasilitator pun ikut-ikutan menangis (fasilitatornya cengeng ya?). Sesi ini dinilai berhasil karena selain mampu menyadarkan peserta akan peran dan potensinya juga memberikan semangat kepada mereka untuk berubah menjadi perempuan yang lebih baik terutama menjadi ibu dan istri yang hebat. Di akhir sesi, fasilitator bahkan mendapatkan ucapan terimakasih dari beberapa peserta karena mereka telah disadarkan dari sikap dan perilakunya yang salah kepada anak.
|
Sebelum Program berjalan, Tim Fasilitator telah melakukan pemetaan kondisi sosial perempuan petani dengan tujuan mengetahui potensi, masalahan dan kebutuhan mereka. Dengan begitu, model-model pendampingan, cara pendekatan, dan aktivitas yang dilaksanakan oleh pendamping nantinya diharapkan selaras dengan karakter perempuan petani. Harapannya, dalam diri perempuan petani timbul perasaan bahwa kegiatan-kegiatan program adalah kegiatan yang mereka usulkan sendiri dan dapat menjawab kebutuhan mereka, sehingga timbul rasa memiliki (
sense of belonging) yang tinggi terhadap program, terhadap pencapaian tujuan program. Perempuan dan fasilitator akhirnya bersama sama saling bahu membahu berupaya melaksanakan kegiatan program dengan komit dan semangat tinggi, amin....
Penilaian dan kesimpulan mengenai kondisi sosial perempuan PKH dilakukan sekitar satu bulan setelah pendamping membaur bersama perempuan. Ada beberapa variable yang diamati diantaranya profile dan ketertarikan/gairah perempuan terhadap program. Variabel-variabel tersebut diamati sejak proses sosialisasi sampai dengan pembentukan kelompok. Penilaian ini bersifat subjektif, oleh karena itu jika ternyata ada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda kami membuka diri untuk menerima masukan.
Perempuan PKH Kabupaten MadiunProfile PerempuanUsia
Mayoritas perempuan PKH yang bergabung dengan kelompok berusia diatas 40 tahun. Paling muda berumur 19 tahun dan paling tua berumur 80 tahun
Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan perempuan PKH mayoritas adalah lulusan SD/Sederajat, jumlahnya mencapai 69 orang dari 100 orang PKH.
Pekerjaan
Pekerjaan sebagian besar perempuan PKH selain menjadi ibu rumah tangga adalah bekerja di sektor pertanian yaitu sortasi kedelai (49%), petani (21%), dan buruh tani (19%). Sebagian kecil saja yang bekerja di sektor perdagangan, kerajinan dan jasa
Gairah/ketertarikan perempuan untuk terlibat dalam program Ketertarikan perempuan untuk terlibat dan aktif dalam program dapat dilihat dari antusiasme yang ditampakkan ketika mendengar informasi adanya program pemberdayaan perempuan. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mengandung respon positif seperti “kegiatannya apa saja? apakah kami akan diberi pelatihan? pelatihannya tentang apa?”. Satu hal yang sangat memudahkan kerja pendamping adalah telah terbentuknya kelompok perempuan sortasi di Desa Krebet dan Kedung Banteng (walaupun pengelompokan tersebut masih sebatas pengelompokan daerah kerja sortasi). Bahkan, kerjasama yang sangat bagus ditampakkan oleh perempuan dalam tahapan “pendataan perempuan dan pembentukan kelompok”. Pendataan awal perempuan PKH dilaksanakan melalui metode Rapid Rural Appraisal (RRA), pendamping mendatangi ketua KSU dan meminta nama-nama tokoh kunci perempuan di setiap kelompok sortir. Kepada tokoh-tokoh kunci tersebut, pendamping meminta nama-nama yang bersedia untuk terlibat dalam P3KH, berkoordinasi dengan mereka untuk menentukan siapa yang akan menjadi kader dan kapan waktu yang tepat untuk membentuk kelompok. Setelah waktu disepakati, tokoh kunci-lah yang bergerak mengundang perempuan calon anggota kelompok.
Partisipasi perempuan dalam pembentukan kelompok sangat tinggi, 100% undangan hadir tepat waktu, mereka juga telah menyiapkan nama kader beserta anggotanya, serta telah menyepakati siapa yang akan menjadi koordinator kelompok. Keaktifan perempuan sangat terlihat ketika sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan yang dilontarkan cukup berkualitas karena berkaitan langsung dengan pemahaman terhadap program, peran mereka nanti, tugas mereka, tujuan program, dls. Pendataan profil perempuan juga berlangsung dengan sangat mudah, form isian diminta oleh masing-masing kader untuk dibagikan kepada anggotanya, mereka dengan kesadaran sendiri langsung menyepakati kapan form tersebut dikumpulkan. Bahkan, kelompok terlihat tidak sabar untuk mengemukakan usulan kegiatan, hampir disetiap pembentukan kelompok diakhiri dengan pengajuan usulan-usulan kegiatan dari anggota kelompok.
Perempuan PKH Kabupaten NganjukProfile PerempuanUsia
Jumlah perempuan PKH yang berusia 40-50 tahun, 31-40 tahun, dan 21-30 tahun hampir sama banyaknya. Dengan rentang usia tidak tertalu jauh antara satu perempuan PKH dengan perempuan PKH lainnya, transfer knowledge relatif lebih mudah dibandingkan dengan objek yang memiliki perbedaan umur yang terlalu tajam.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan perempuan PKH mayoritas adalah lulusan SMP/Sederajat dan SD/Sederajat. SMA dan diploma ada, tetapi jumlahnya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan perempuan yang tidak sekolah. Tetapi dibandingkan dengan Madiun, tingkat pendidikan perempuan PKH Nganjuk lebih tinggi.
Pekerjaan
Variasi pekerjaan perempuan PKH Nganjuk sangat rendah, mayoritas adalah ibu rumah tangga yang bekerja sebagai sortir kedelai. Sebagian kecil yang bekerja sebagai pedagang dan guru.
Gairah/Ketertarikan Perempuan Terhadap ProgramKetertarikan perempuan PKH terhadap program di tahap awal kurang begitu terlihat. Ketika pendamping melakukan sosialisasi informal dan pendataan, 5 dari 10 perempuan sortir di Gambirejo dan Kujon Manis yang didatangi oleh pendamping menolak untuk terlibat karena alasan kurang tertarik dan tidak percaya terhadap keseriusan dan manfaat program. Rupanya mereka masih trauma dengan kebohongan beberapa pihak yang sempat menjanjikan program, tetapi kenyataannya tidak pernah terealisasi. Hal serupa juga terjadi pada saat pendamping mengajak satu perwakilan perempuan untuk pergi ke Jogja, 2 orang pertama yang direkomendasikan oleh Kepala Desa Kampungbaru menolak karena alasan sibuk, baru orang ketiga yang mau. Pengalaman dari jogja rupanya memberikan keyakinan kepada ibu-ibu bahwa SPeKTRA serius dengan program ini, sehingga pada saat pendataan, pendamping tidak kesulitan mendapatkan perempuan PKH di Desa Kampung Baru. Sebaliknya, ketertarikan perempuan di Dusun Gambirejo dan Kujon manis belum sebaik Kampung Baru, terbukti dari minimnya perempuan yang mau terlibat. Oleh pendamping, perempuan dari dua desa tersebut digabung menjadi satu kelompok. Karena hanya ada 2 kelompok dari 3 desa, pendamping berinisiatif membuat satu kelompok lagi di Desa Mukoh (lokasi sebagian besar kedelai hitam ditanam, 3 desa lainnya lebih banyak ke sortasi), disini pendamping berhasil membentuk kelompok perempuan walaupun pada tahap awal hanya ada 10 orang yang terlibat.
KesimpulanPendidikan perempuan PKH Nganjuk lebih tinggi dibandingkan dengan Madiun, tetapi sebagian besar mereka lebih banyak terlibat di pekerjaan domestik, berbeda dengan perempuan PKH Madiun yang tidak hanya memainkan perannya di ranah domestik, mereka juga berperan dalam menunjang perekomonian keluarga dengan bekerja apa saja tidak hanya sortir, mereka ikut bertani, menjadi buruh tani, mereka beternak, menjadi pengrajin anyaman tas, dls. Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan di luar rumah itulah sehingga tanpa sadar mereka memiliki sikap positif terhadap perannya dalam rumah tangga, mereka cenderung lebih terbuka terhadap perubahan (resistensi rendah) dan memberikan respon positif terhadap P3KH. Berbeda dengan perempuan PKH Nganjuk yang terbiasa dengan perannya hanya sebagai ibu rumah tangga, apalagi di dukung dengan pengalaman kurang menyenangkan dengan program-program pemberdayaan, mereka cenderung apatis, pasif, dan memiliki resistensi cukup tinggi dengan keberadaan program.
P3KH adalah singkatan dari Program Pemberdayaan Perempuan Petani Kedelai Hitam yang diselenggarakan oleh Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan LSM SPeKTRA. Program tersebut merupakan pendukung dari program Pemberdayaan Komunitas Petani Kedelai Hitam (bahan baku utama kecap Bango) yang dilaksanakan sejak Tahun 2001 oleh Yayasan Unilever Indonesia bersama dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Di Jawa Timur, Program Pemberdayaan Komunitas Petani telah dilaksanakan sejak Tahun 2007-2008 di Nganjuk, Madiun, Ngawi, dan Pacitan.
Sesuai dengan pemahaman CSR yang dianut oleh Yayasan Unilever Indonesia, yakni sebagai total bussiness impact, dimana CSR bukan hanya difahami sebagai kegiatan filantropi atau kedermawanan semata, tetapi juga memuat unsur pemberdayaan masyarakat. Maka, pemberdayaan petani kedelai hitam - yang selama ini lebih banyak melibatkan bapak-bapak petani- akan ditingkatkan kemanfaatannya dengan melaksanakan satu program yang secara spesifik menempatkan perempuan sebagai sasaran utama program. Kenapa? karena selama ini perempuan terkesan agak terabaikan oleh program pemberdayaan perempuan lainnya, padahal upaya pemberdayaan keluarga akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar seandainya ibu-ibunya juga diberdayakan. Bagaimanapun, perempuan memegang peranan yang sangat penting dalam keluarga, mereka adalah pengelola rumah tangga, istri, ibu, pekerja dalam satuan rumah tangga, bahkan bisa juga berperan sebagai pencari nafkah.
Oleh karena itu, Pada tahun 2009 Program Pemberdayaan Perempuan Petani Kedelai Hitam untuk pertamakali dilaksanakan di Kabupaten Nganjuk dan Madiun dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri perempuan, menambah pengetahuan perempuan melalui pelatihan, studi banding dan pendampingan, serta meningkatkan kemampuan berusaha dalam mengelola sektor pertanian sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh perempuan.
Program yang dilaksanakan sepanjang Bulan Januari sampai dengan Agustus ini melibatkan 7 kelompok perempuan petani dengan total anggota 160 perempuan. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 40 orang menjadi kader yang akan menjadi motor penggerak pemberdayaan perempuan dan menyebarkan kesadaran akan peran dan potensi perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga kepada perempuan lain dalam kelompok maupun diluar kelompok.
|