Penilaian dan kesimpulan mengenai kondisi sosial perempuan PKH dilakukan sekitar satu bulan setelah pendamping membaur bersama perempuan. Ada beberapa variable yang diamati diantaranya profile dan ketertarikan/gairah perempuan terhadap program. Variabel-variabel tersebut diamati sejak proses sosialisasi sampai dengan pembentukan kelompok. Penilaian ini bersifat subjektif, oleh karena itu jika ternyata ada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda kami membuka diri untuk menerima masukan.
Perempuan PKH Kabupaten Madiun
Profile Perempuan
Usia

Mayoritas perempuan PKH yang bergabung dengan kelompok berusia diatas 40 tahun. Paling muda berumur 19 tahun dan paling tua berumur 80 tahun
Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan perempuan PKH mayoritas adalah lulusan SD/Sederajat, jumlahnya mencapai 69 orang dari 100 orang PKH.
Pekerjaan

Pekerjaan sebagian besar perempuan PKH selain menjadi ibu rumah tangga adalah bekerja di sektor pertanian yaitu sortasi kedelai (49%), petani (21%), dan buruh tani (19%). Sebagian kecil saja yang bekerja di sektor perdagangan, kerajinan dan jasa
Gairah/ketertarikan perempuan untuk terlibat dalam program
Ketertarikan perempuan untuk terlibat dan aktif dalam program dapat dilihat dari antusiasme yang ditampakkan ketika mendengar informasi adanya program pemberdayaan perempuan. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mengandung respon positif seperti “kegiatannya apa saja? apakah kami akan diberi pelatihan? pelatihannya tentang apa?”. Satu hal yang sangat memudahkan kerja pendamping adalah telah terbentuknya kelompok perempuan sortasi di Desa Krebet dan Kedung Banteng (walaupun pengelompokan tersebut masih sebatas pengelompokan daerah kerja sortasi). Bahkan, kerjasama yang sangat bagus ditampakkan oleh perempuan dalam tahapan “pendataan perempuan dan pembentukan kelompok”. Pendataan awal perempuan PKH dilaksanakan melalui metode Rapid Rural Appraisal (RRA), pendamping mendatangi ketua KSU dan meminta nama-nama tokoh kunci perempuan di setiap kelompok sortir. Kepada tokoh-tokoh kunci tersebut, pendamping meminta nama-nama yang bersedia untuk terlibat dalam P3KH, berkoordinasi dengan mereka untuk menentukan siapa yang akan menjadi kader dan kapan waktu yang tepat untuk membentuk kelompok. Setelah waktu disepakati, tokoh kunci-lah yang bergerak mengundang perempuan calon anggota kelompok.
Partisipasi perempuan dalam pembentukan kelompok sangat tinggi, 100% undangan hadir tepat waktu, mereka juga telah menyiapkan nama kader beserta anggotanya, serta telah menyepakati siapa yang akan menjadi koordinator kelompok. Keaktifan perempuan sangat terlihat ketika sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan yang dilontarkan cukup berkualitas karena berkaitan langsung dengan pemahaman terhadap program, peran mereka nanti, tugas mereka, tujuan program, dls. Pendataan profil perempuan juga berlangsung dengan sangat mudah, form isian diminta oleh masing-masing kader untuk dibagikan kepada anggotanya, mereka dengan kesadaran sendiri langsung menyepakati kapan form tersebut dikumpulkan. Bahkan, kelompok terlihat tidak sabar untuk mengemukakan usulan kegiatan, hampir disetiap pembentukan kelompok diakhiri dengan pengajuan usulan-usulan kegiatan dari anggota kelompok.
Perempuan PKH Kabupaten Nganjuk
Profile Perempuan
Usia

Jumlah perempuan PKH yang berusia 40-50 tahun, 31-40 tahun, dan 21-30 tahun hampir sama banyaknya. Dengan rentang usia tidak tertalu jauh antara satu perempuan PKH dengan perempuan PKH lainnya, transfer knowledge relatif lebih mudah dibandingkan dengan objek yang memiliki perbedaan umur yang terlalu tajam.
Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan perempuan PKH mayoritas adalah lulusan SMP/Sederajat dan SD/Sederajat. SMA dan diploma ada, tetapi jumlahnya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan perempuan yang tidak sekolah. Tetapi dibandingkan dengan Madiun, tingkat pendidikan perempuan PKH Nganjuk lebih tinggi.
Pekerjaan

Variasi pekerjaan perempuan PKH Nganjuk sangat rendah, mayoritas adalah ibu rumah tangga yang bekerja sebagai sortir kedelai. Sebagian kecil yang bekerja sebagai pedagang dan guru.
Gairah/Ketertarikan Perempuan Terhadap Program
Ketertarikan perempuan PKH terhadap program di tahap awal kurang begitu terlihat. Ketika pendamping melakukan sosialisasi informal dan pendataan, 5 dari 10 perempuan sortir di Gambirejo dan Kujon Manis yang didatangi oleh pendamping menolak untuk terlibat karena alasan kurang tertarik dan tidak percaya terhadap keseriusan dan manfaat program. Rupanya mereka masih trauma dengan kebohongan beberapa pihak yang sempat menjanjikan program, tetapi kenyataannya tidak pernah terealisasi. Hal serupa juga terjadi pada saat pendamping mengajak satu perwakilan perempuan untuk pergi ke Jogja, 2 orang pertama yang direkomendasikan oleh Kepala Desa Kampungbaru menolak karena alasan sibuk, baru orang ketiga yang mau. Pengalaman dari jogja rupanya memberikan keyakinan kepada ibu-ibu bahwa SPeKTRA serius dengan program ini, sehingga pada saat pendataan, pendamping tidak kesulitan mendapatkan perempuan PKH di Desa Kampung Baru. Sebaliknya, ketertarikan perempuan di Dusun Gambirejo dan Kujon manis belum sebaik Kampung Baru, terbukti dari minimnya perempuan yang mau terlibat. Oleh pendamping, perempuan dari dua desa tersebut digabung menjadi satu kelompok. Karena hanya ada 2 kelompok dari 3 desa, pendamping berinisiatif membuat satu kelompok lagi di Desa Mukoh (lokasi sebagian besar kedelai hitam ditanam, 3 desa lainnya lebih banyak ke sortasi), disini pendamping berhasil membentuk kelompok perempuan walaupun pada tahap awal hanya ada 10 orang yang terlibat.
Kesimpulan
Pendidikan perempuan PKH Nganjuk lebih tinggi dibandingkan dengan Madiun, tetapi sebagian besar mereka lebih banyak terlibat di pekerjaan domestik, berbeda dengan perempuan PKH Madiun yang tidak hanya memainkan perannya di ranah domestik, mereka juga berperan dalam menunjang perekomonian keluarga dengan bekerja apa saja tidak hanya sortir, mereka ikut bertani, menjadi buruh tani, mereka beternak, menjadi pengrajin anyaman tas, dls. Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan di luar rumah itulah sehingga tanpa sadar mereka memiliki sikap positif terhadap perannya dalam rumah tangga, mereka cenderung lebih terbuka terhadap perubahan (resistensi rendah) dan memberikan respon positif terhadap P3KH. Berbeda dengan perempuan PKH Nganjuk yang terbiasa dengan perannya hanya sebagai ibu rumah tangga, apalagi di dukung dengan pengalaman kurang menyenangkan dengan program-program pemberdayaan, mereka cenderung apatis, pasif, dan memiliki resistensi cukup tinggi dengan keberadaan program.

0 comments: