Tanggal 23 dan 24 Maret 2009, Manajamen Program bersama dengan pendamping dan kader di masing-masing lokasi program melakukan koordinasi penyusunan rencana kegiatan kelompok dan implementasi hasil ToT.

Koordinasi dengan kader Kabupaten Nganjuk bertempat di kantor kepala desa Kampung Baru. Hadir pada koordinasi Tanggal 23 Maret 2009 tersebut 8 orang kader dari 3 kelompok perempuan, Ibu Kepala Desa Kampung Baru, pendamping dan 3 orang manajemen program. Mengapa Ibu Kepala Desa hadir? Sebagaimana yang telah kami ceritakan, Kepala Desa Kampung Baru memiliki perhatian yang tinggi terhadap pemberdayaan masyarakatnya. Beliau sangat mendukung program ini dan mempersilahkan kelompok untuk menggunakan kantor kepala desa sebagai tempat beraktivitas kelompok (rapat, koordinasi, pertemuan). Kepala Desa juga mendorong istrinya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan, termasuk aktif dalam kegiatan kelompok (walaupun Ibu Kades tidak termasuk anggota), selain dapat mengasah kemampuan dan melatih kepercayaan diri Ibu Kades untuk berbicara di depan umum, kehadiran Ibu Kades juga dapat memberikan motivasi tersendiri bagi kelompok.

Wonderfull...!!, itulah kata yang tepat yang kami punya untuk mengapresiasi semangat yang ditampakkah kader, ditengah kesibukan panen dan tanam, ibu-ibu ternyata masih menyempatkan diri untuk melaksanakan kegiatan kelompok. Bahkan, kelompok telah memulai aktivitasnya seminggu setelah ToT, kira-kira Tanggal 2 maret 2009. Kader mengumpulkan anggota untuk menyampaikan hasil ToT dan merencanakan kegiatan kelompok. Ada 3 kegiatan rutin kelompok yaitu:

Arisan dan jimpitan; arisan dilaksanakan satu bulan sekali dengan jumlah uang Rp 10.000, Di Mukoh, kelompok mengadakan arisan seminggu sekali dengan jumlah uang Rp 5.000. Tempat arisan bergilir di rumah tiap-tiap anggota. Jimpitan dilaksanakan dalam bentuk "menyisihkan segenggam beras atau menyisihkan uang belanja Rp 500 - Rp 1.000 setiap hari". Jimpitan tersebut dikumpulkan ke koordinator kelompok pada saat arisan, selanjutnya uang yang terkumpul diberikan secara bergilir kepada seluruh anggota. Tujuan arisan dan jimpitan adalah membantu meringankan kebutuhan anggota kelompok dengan cara gotong royong.

Tabungan sukarela; Menabung sukarela (istilah yang digunakan kader) adalah kegiatan menyisihkan uang dengan jumlah sesuai kemampuan anggota (sukarela) yang bertujuan untuk saling membantu kesulitan yang dihadapi anggota kelompok. Tabungan sukarela dikumpulkan ke koordinator atau kader lain yang ditunjuk, setelah ada salah satu anggota yang tertimpa musibah atau kesulitan, kelompok akan memberikan bantuan dengan memberikan sejumlah uang/barang yang diambilkan dari tabungan sukarela kelompok. Jadi dengan adanya tabungan sukarela ini, anggota kelompok diharapkan tidak mengambil jalan "berhutang" untuk mengatasi masalah keuangannya.

Tabungan sukarela, jimpitan, dan arisan perlu dicatat dengan baik agar tidak terjadi konflik di kemudian hari. Kader menyatakan bahwa mereka perlu diberikan bimbingan dalam "pencatatan/pembukuan". Ini tugas pendamping dong....atau ada pihak lain yang ingin membantu perempuan...?? kami dengan senang hati akan menerimanya :)

Apotik Hidup/Penanaman Toga; Penanaman toga dilakukan di satu lahan khusus yang diakui sebagai milik bersama (biasanya di lahan salah satu anggota), bisa juga dikelola oleh masing-masing kader atau biasa disebut kelompok kecil (dalam kelompok ada 4-5 kader yang membawahi 4-5 anggota, kader beserta anggotanya inilah yang disebut kelompok kecil). Kelompok kecil menanam 2-3 tanaman toga yang berbeda dengan tanaman toga yang dtanam oleh kelompok kecil lainnya dalam satu kelompok besar. Sementara ini, tujuan penanaman toga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga anggota, kedepan, jika hasilnya banyak, kelompok akan menjualnya dalam bentuk bahan baku atau produk olahan, seperti jamu instan/bubuk atau minuman. Dari 3 kelompok perempuan, kelompok dari Desa Gambirejo dan Kujon Manis telah mulai mananam tanaman toga, kelompok dari Desa Kampung Baru masih mempersiapkan lahan, Kelompok dari Desa Mukoh masih akan membahas persiapannya dengan anggota.

Rencana Usaha; Kelompok perempuan dari Desa Gambirejo/Kujon Manis dan kelompok perempuan dari Desa Mukoh berencana untuk mengembangkan budidaya lele. Alasannya, budidaya lele tidak membutuhkan lahan luas (karena medianya hanya berupa tong, air, dan lumpur), perawatannya mudah, dan ada pasar yang siap menyerap hasil produksi mereka (antara lain pasar ikan yang ada di kecamatan, bakul ethek-ethek, pasar tradisional, warung makan). Tetapi karena sebelumnya belum ada anggota kelompok yang melakukan budidaya lele, mereka meminta diadakan pelatihan pembuatan media dan cara perawatan lele. Kelompok semakin yakin dengan usaha ini karena melihat keberhasilan budidaya lele di Pare, Kediri yang dilakukan anak salah satu kader dari Desa Mukoh. Lokasi budidaya akan dipusatkan di satu tempat dengan melibatkan seluruh anggota kelompok dalam perawatannya.
Kelompok perempuan Desa Mukoh juga berencana untuk mengembangkan tanaman Rosela, saat ini telah disiapkan lahan khusus milik salah satu anggota yang akan ditanami rosela. Karena sudah memiliki pengalaman, kelompok merasa tidak membutuhkan pelatihan. Penanaman dan perawatan rosela akan melibatkan seluruh anggota kelompok dengan sistem piket. Pemasaran rosela relatif mudah karena ada beberapa suplier yang siap menampung rosela hasil budidaya kelompok.
Kelompok perempuan dari Kampung Baru berencana membuat usaha budidaya jamur tiram dengan alasan mudah mendapatkan bahan baku media, mudah dipasarkan, dan sebagai tambahan gizi keluarga. Mereka berencana untuk mengelola usaha tersebut melalui kelompok-kelompok kecil dengan sistem piket.
This entry was posted on 21.34 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: