ToT Manajemen Kelompok dan Keuangan Rumah Tangga dilaksanakan Tanggal 24-25 Februari 2009 bertempat di Gedung Diklat Pemerintah Kota Madiun, Jl Duku No. 1, Gulun, Kabupaten Madiun. Kegiatan yang dihadiri oleh 34 kader dari Kabupaten Madiun dan Nganjuk ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan PKH mengenal peran dan potensi dirinya, mampu mengelola organisasi dengan baik, serta mampu mengelola keuangan rumah tangga dengan bijak sebagai prasyarat menjadi keluarga mandiri dan berdaya.
Output yang diharapkan dari pelaksanaan ToT adalah:
1. Peserta dapat memahami tujuan, manfaat berkelompok dan cara mengelola kelompok dengan baik.
2. Peserta menyadari peran dan potensinya dalam keluarga sehingga lebih termotivasi untuk meningkatkan perannya bagi kesejahteraan keluarga.
3. Meningkatnya motivasi peserta untuk berkelompok dan mengembangkan kelompok.
4. Peserta memahami alasan pentingnya mengelola keuangan rumah tangga dengan baik dan cara membuat anggaran keuangan rumah tangga.
5. Peserta memiliki sikap bahwa membuat anggaran rumah tangga, disiplin terhadap anggaran dan menabung itu penting bagi terwujudnya keluarga yang mandiri dan berdaya.

ToT dilaksanakan dengan metode diskusi, games, dan simulasi. Digunakannya games dalam penyampaian materi bertujuan agar kondisi pelatihan menjadi nyaman dan menyenangkan bagi peserta, sehingga timbul semangat dan gairah untuk mengikuti pelatihan. Digunakannya metode diskusi dan simulasi bertujuan untuk menciptakan situasi bahwa pengalaman, pengetahuan, dan ide peserta sangat berharga dan penting. Ketika merasa dihargai, peserta menjadi lebih percaya diri dan berani menyampaikan pendapat dan ide, diskusi berjalan hidup karena seluruh peserta melibatkan diri secara aktif. Pada akhirnya, proses pembelajaran akan berjalan dengan sangat efektif karena peserta cepat menyerap pengetahuan dan keahlian yang ditransfer dalam ToT, bukan hanya pengetahuan teoritis, juga keahlian teknis yang diperoleh dari "belajar dari pengalaman".

Pelaksanaan ToT
Acara ToT dimulai dengan Pengorganisasian Kelas. Fasilitator menjelaskan tentang bagaimana pelatihan akan dilaksanakan, apa saja materinya, siapa fasilitatornya, siapa pesertanya, dengan metode apa materi akan disampaikan, serta menetapkan peraturan selama pelatihan berlangsung. Peraturan yang disepakati adalah:
a. Tidak boleh terlambat; jika terlambat dikenakan hukuman menyanyi sambil berjoget.
b. Tidak boleh mengantuk/tidur didalam kelas
c. Tidak boleh menerima telepon di dalam ruangan kelas
d. Setiap keluar kelas harus meminta izin kepada ketua kelas/fasilitator
Kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya .......selama pelatihan tidak terlihat satupun peserta yang mengantuk, menerima telepon di dalam ruangan kelas, keluar kelas karena izin apapun (entah taat atau karena begitu tertariknya dengan pelatihan, padahal menurut cerita sebagian besar peserta, mereka tidak bisa tidur karena masuk angin, maklum mayoritas peserta tidak terbiasa dengan AC, namun begitu, tidak satupun yang komplain atau izin ke kamar belakang di hari pertama pelatihan, dan tidak satupun peserta yang terlambat memasuki ruang pelatihan, rata-rata mereka hadir 20-30 menit sebelum materi dimulai. SALUT deh buat ibu-ibu,HEBAT......!!!!

Setelah peraturan disepakati, waktunya sesi perkenalan diri. satu persatu fasilitator dan peserta memperkenalkan diri dalam bentuk permainan “KU TAHU YANG KU MAU”. Peserta dari Nganjuk dan Madiun diminta untuk berpasangan dan diberi waktu 5 menit untuk berkenalan. Fasilitator, secara acak memanggil satu nama peserta. Nama yang dipanggil maju ke depan audience bersama pasangannya untuk memperkenalkan diri dengan cara melakukan gaya tentang dirinya dan harus ditebak oleh pasangannya. Setelah selesai, pasangan tersebut menunjuk pasangan yang lain, begitu seterusnya. Permainan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kedekatan peserta dan meningkatkan kemampuan komunikasi non verbal. Pasangan yang mampu menebak paling banyak memperoleh hadian dari fasilitator. Permainan ini berjalan cukup seru, melihat ibu-ibu bergaya sungguh menyenangkan, apalagi melihat wajah kebingungan ibu-ibu ketika berusaha menebak. gelak tawa seketika pecah melihat gaya kocak ibu-ibu, suasana beku sebelumnya langsung meleleh. Sangat menyenangkan tertawa bersama ibu-ibu.

Peserta semakin bersemangat dan bergairah ketika Ibu Maya Tamimi (Yayasan Unilever Indonesia) dan Pak Roni S. Sya'roni (Direktur SPeKTRA) membuka sesi dengan menyampaikan materi CSR dan Motivasi dengan sangat menarik. Senyum, keramahan dan joke yang ditampilkan oleh beliau-beliau menjadi magnet yang langsung membetot perhatian peserta, ditambah dengan yel-yel pembangkit motivasi yang diberikan oleh pak Roni “AKU MAU SUKSES!” merupakan sarting point yang sangat bagus bagi pelaksanaan ToT.

Situasi dan kondisi awal pelatihan sudah sangat kondusif, untuk menjaga kondisi tersebut fasilitator selalu menyisipkan ice breaker di setiap sesi. Seperti permainan “TANGKAP KUCING” berikut.

Peserta berdiri melingkar, telunjuk tangan kanan dan kiri diletakkan dibahu, setiap mendengar kata kucing dalam cerita yang disampaikan oleh fasilitator, tangan kanan peserta berusaha menangkap telunjuk kiri peserta yang berdiri disebalah kanannya sambil berusaha menghindar agar telunjuk kirinya tidak dapat ditangkap peserta yang berdiri disebelah kirinya. Cerita tersebut kadang menjebak peserta, sehingga yang disangka akan diucapkan kucing ternyata kata meong atau hewan yang bersuku kata “ku”. Begitu tahu terjebak, kami semua tertawa, tetapi kembali berkonsentrasi menyimak cerita sambil bersiap-siap “menangkap” dan “menghindar”, begitu mendengar kata ”kucing” serentak peserta berusaha menangkap telunjuk teman disebalah kananya dan berusaha dengan beragam cara menghindar agar telunjuk kiri tidak ditangkap, ada yang menyembunyikan telunjuk kirinya dibalik ketiak, dibelakang badan, atau mengacungkan telunjuknya setinggi mungkin. Sebaliknya, yang lain juga berusaha menangkap dengan beragam cara, jadi kadang terlihat beberapa rangkaian orang yang sudah berhasil menangkap dan ditangkap terpontang-panting karena satu orang yang ada diujung berusaha agar telunjuk kirinya tidak tertangkap, atau segerombolan ibu-ibu yang muter-muter karena berusaha menangkap telunjuk temannya yang diumpetin dibelakang punggung. Sangat menghebohkan, ramai dan dipenuhi tawa. Secapat kilat menangkap dan sekuat tenaga menghindar, wah ibu-ibu....melihatnya dalam situasi demikian tidak menyangka bahwa sebagian besar dari mereka sudah berusia uzur.

Sesi Pengembangan Kelompok
Dalam sesi "Pengembangan Kelompok", peserta diberi penjelasan teori tentang kelompok, pengembangan kelompok, dan unsur-unsur kelompok. Teori-teori tersebut selanjutnya disimulasikan dalam sebuah permainan kelompok berjudul “OPER PENSIL”.
Peserta dibagi 4 kelompok dengan anggota masing-masing 8 orang. Mereka diberi tugas untuk mengoper pensil dengan menggunakan dua jempol. Sebelum dimulai, kelompok diberi waktu berkoordinasi memikirkan strategi jitu untuk memenangkan permainan. Fasilitator sengaja memberikan instruksi kurang jelas di awal permainan, ketika 2 regu sudah mulai berlomba, fasilitator sedikit demi sedikit memperjelas instruksi, satu kelompok gagal karena bingung dengan instruksi yang diberikan fasilitator. Babak selanjutnya, instruksi dan aturan permainan diberikan dengan jelas kepada 2 regu yang berlomba. 2 regu tersebut ternyata gagal di tengah jalan (pensil jatuh). Karena hanya ada satu regu yang berhasil, fasilitator berniat mengulang kembali perlombaan kedua regu tersebut. Keputusan ini langsung diprotes oleh regu yang kalah dibabak pertama, mereka bersikeras melarang karena pensil jatuh berarti gagal, sebaliknya 2 regu yang merasa keputusan tersebut menguntungkan bersikeras untuk diulang, satu pihak menganggap keputusan fasilitator tidak adil, satu pihak mendukung fasilitator. Akhirnya Fasilitator tetap pada keputusan melanjutkan perlombaan. Setelah permainan selesai, fasilitator meminta peserta untuk merangkum hasil permainan, termasuk bagaimana cara kelompok menyelesaikan konflik seperti yang terjadi dalam permainan tadi. Peserta dengan cepat menyebutkan apa saja yang harus dimiliki oleh kelompok, diantaranya adalah: kerjasama yang baik, anggota harus kompak, ada koordinasi dan komunikasi, memiliki strategi, aturan kelompok harus jelas, konflik harus cepat/segera diatasi dengan baik, sikap saling mengalah antar anggota untuk kepentingan bersama.


Sesi Manajemen Ekonomi Rumah Tangga
Sesi “Manajemen Ekonomi Rumah Tangga” disampaikan dengan menggunakan metode simulasi. Fasilitator mengajak peserta untuk menyadari betapa pentingnya membuat perencanaan keuangan rumah tangga. Dengan menggunakan metode simulasi, fasilitator menyadarkan peserta bahwa manusia akan menghadapi kejadian yang diharapkan dan tidak diharapkan, manusia memiliki kebutuhan saat ini dan akan datang. Apa yang dilakukan peserta ketika menghadapi kejadian yang tidak diharapkan dan apa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjangnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diminta untuk menelusuri kebutuhan/pengeluaran dalam periode tertentu dan menelusuri sumber-sumber penghasilan dalam periode tertentu. Pada saat diminta menelusuri peserta agak kesulitan, karena selama hidup peserta tidak terbiasa berpikir darimana pendapatannya dan kebutuhan kedepan apa saja, mereka terbiasa dengan pola pikir mencari makan untuk hari ini dan dihabiskan untuk hari ini. Memang agak berat mengajak peserta, apalagi yang belum pernah mengecap bangku sekolah untuk berpikir tentang pendapatan dan pengeluaran. Walaupun harus pelan-pelan, akhirnya mereka bisa menelusuri pendapatan dan pengeluarannya. Dari hasil penelusuran tersebut, peserta kemudian diajak untuk membuat perencanaan keuangan (penganggaran). Anggaran keuangan rumah tangga dapat menjadi guidance bagi perempuan untuk mengatur pendapatannya dengan bijak. Mengenai kesadaran menabung, sudah mereka lakukan dalam bentuk gabah, hewan ternak, dan arisan. Mereka kurang menyukai menabung dalam bentuk uang karena selalu tergoda untuk mengambilnya. Kesimpulan dari sesi ini adalah; (i) peserta telah memiliki kesadaran menabung dan sebagian besar menggunakan “tabungan’nya untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang/menghadapi kejadian yang tidak diinginkan, (2) peserta masih belum sepenuhnya menyadari bahwa perencanaan keuangan itu perlu dan menganggap perencanaan keuangan itu rumit, oleh karena itu masih perlu pendampingan dan penyadaran lebih lanjut yang dilakukan secara terus menerus oleh pendamping.

Sesi Penyadaran Peran dan Potensi Perempuan
Dalam sesi “Peran dan Potensi” Fasilitator mengajak peserta untuk mengenal perannya dalam keluarga melalui “melihat kembali kedalam diri untuk mengenal siapa saya dalam keluarga” kemudian menuliskan dan membacakan peran apa yang mereka ketahui. Ternyata mayoritas peseta hanya menyadari perannya sebagai ibu dan istri saja. Fasilitator menunjukkan gambar-gambar dalam slide untuk menuntun peserta mengetahui bahwa peran perempuan selain ibu dan istri adalah pengelola rumah tangga, pencari nafkah, dan pekerja dalam satuan rumah tangga. Sampai kepada eksplorasi peran perempuan sebagai ibu (slide menampilkan puisi disertai nyanyian “bunda”), suasana benar-benar sunyi dan mulai terlihat beberapa peserta menitikkan airmata, ketika fasilitator mendeklamasikan puisi tersebut beberapa peserta terlihat menangis. Untuk menghentikan keharuan, fasilitator melontarkan pertanyaan “apa perasaan peserta ketika mendengar puisi dan lagu tersebut”. Mereka menjawab terharu dan ingin merubah dirinya, tidak ada kata terlambat untuk berubah dan memperbaiki diri, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Seorang ibu dari Madiun menyatakan bahwa ketika mendengar lagu tersebut ia teringat kepada anaknya yang bekerja di luar negeri dan perhatian yang diberikan untuk ibunya walaupun terpisah jarak yang sangat jauh. Saat ibu tersebut berbicara sambil tersendat-sendat tidak hanya peserta yang terbawa suasana, kedua Fasilitator pun ikut-ikutan menangis (fasilitatornya cengeng ya?). Sesi ini dinilai berhasil karena selain mampu menyadarkan peserta akan peran dan potensinya juga memberikan semangat kepada mereka untuk berubah menjadi perempuan yang lebih baik terutama menjadi ibu dan istri yang hebat. Di akhir sesi, fasilitator bahkan mendapatkan ucapan terimakasih dari beberapa peserta karena mereka telah disadarkan dari sikap dan perilakunya yang salah kepada anak.
|
This entry was posted on 18.22 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: