Kelompok Anggrek,
Desa Krebet, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun

Kelompok Anggrek, adalah kelompok perempuan sortase dan petani kedelai hitam dari Desa Krebet. Untuk sementara ini, ibu-ibu yang bergabung dalam kelompok masih terbatas pada warga Rt 01. Kedepan, jika terbukti program ini memberikan manfaat yang cukup signifikan pada masyarakat, akan ada perluasan anggota atau kelompok ke rt lain atau desa lain yang, walaupun tidak menjadi tenaga sortasi, juga turut menanam kedelai hitam. Mayoritas anggota Kelompok Anggrek adalah buruh tani dengan pendapatan tidak menentu dan tingkat pendidikan rendah. Ibu-ibu ini selain sebagai buruh tani juga menjadi buruh usaha kerajinan tas, tenaga sortasi kedelai hitam, dan peternak tradisional.
Peternak tradisional disini bukan difahami sebagai pekerjaan utama yang dapat mendatangkan hasil kontinyu. Ternak, bagi masyarakat adalah sebuah aset yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau kebutuhan jangka menengah/panjang. Karena tidak memiliki pendapatan tetap dari pekerjaannya sebagai buruh, keluarga petani mengandalkan hasil ternak untuk memenuhi kebutuhannya. Biasanya suami istri akan berbagi peran, jika keluarga memiliki sapi dan kambing, yang bertugas untuk menggembalakan dan mencarikan rumput untuk kambing adalah istri, sedangkan suami bertugas mengurus sapi. Tetapi jika hanya memiliki kambing saja, istri dan suami sama-sama bertugas mencarikan rumput atau menggembalakan kambing. Kesimpulannya, ibu-ibu anggota juga memiliki tugas utama mencarikan rumput untuk pakan ternak. Di luar kegiatan buruh, mencari rumput ini menghabiskan waktu antara 3-4 jam sehari.
Kesibukan ibu-ibu membantu suami mencari nafkah, tidak berbanding dengan pendapatan yang diperoleh. Pendapatan Rp. 20.000/hr hanya mereka dapatkan pada saat musim tanam/panen. Wajar, jika kehidupan ekonomi anggota Kelompok Anggrek jauh dari kata berkucupan. Ibu-ibu sangat berharap ada pekerjaan alternatif (
side job) yang dapat memberikan penghasilan tetap, walaupun itu hanya berkisar antara Rp. 1000/5000 sehari.
Berlandaskan motivasi mendapatkan hidup lebih baik, ibu-ibu membentuk kelompok dan berusaha mencapai tujuan tersebut bersama-sama. Mereka merencanakan bersama, berlatih kemampuan teknis secara mandiri dan otodidak, serta mengelola dan memasarkan usaha yang mereka rencanakan untuk peningkatan taraf hidupnya. Koordinator kelompok ini adalah Ibu Suparmi, ibu rumah tangga sederhana yang selama ini hanya mengenal dunia tani dan sama sekali belum memiliki pengalaman berbicara di depan umum, apalagi mengatur banyak orang untuk suatu tujuan, jadi bisa dibayangkan bagaimana sulitnya beliau ketika pertama kali harus mengorganize ibu-ibu anggota kelompok, berbicara di depan mereka untuk menyampaikan sebuah informasi, mengarahkan dan memberi mereka motivasi. Kendala yang dihadapi Ibu Suparmi tidak hanya minimnya pengalaman, tetapi juga rasa tidak percaya diri akan pendidikannya dan keterbatasan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun demikian, Ibu Suparmi dan kader lainnya terus bergerak.
Mengumpulkan ibu-ibu juga menjadi persoalan tersendiri, apalagi pada saat musim panen dan tanam, nyaris sepanjang hari semua anggota kelompok berada di sawah, bahkan terkadang di malam hari mereka juga pergi ke sawah. Hanya karena semangat saja, mereka mampu menyisihkan waktu untuk berkumpul. Tidak bisa rutin, tetapi diupayakan setiap ada hal yang perlu dibicarakan, Ibu Koordinator mengundang anggota. Pada saat sibuk itu, transfer informasi dan ilmu juga berlangsung di sawah, hal-hal penting sering dibahas di sawah ketika mereka bekerja atau sedang istirahat, seperti distribusi informasi dan ilmu hasil ToT antara kader dan anggota.
Ketika rencana usaha sudah disepakati, yaitu produksi kerupuk puli dan tempe, kendala selanjutnya adalah bagaimana kelompok mampu memproduksi dan memasarkannya. Nilai tambah kelompok ini adalah kekompakan dan semangat tinggi yang dimiliki koordinator dan kader. Jadi, ketika dana stimulan belum cair, koordinator dan kader berinisiatif melakukan pelatihan sendiri yang dilaksanakan pada pertemuan rutin kelompok (arisan). Dana dan alat ditanggung oleh koordinator. Pelatihan pertama gagal karena banyaknya perbedaan pendapat anggota dalam membuat kerupuk puli. Pelatihan kedua, kerupuk puli yang dihasilkan tidak bisa mengembang sempurna ketika digoreng. Koordinator dan kader kemudian berinisiatif mencoba sendiri, ternyata sukses. Tidak hanya itu, koordinator dan kader juga berinisiatif mencoba membuat tempe dari kedelai hitam. Inipun berhasil dengan baik. Oleh kader, tempe yang sudah jadi dijual seharga Rp. 800/buah ke tetangga, ternyata respon tetangga baik, buktinya semua tempe terjual habis. Tidak berhenti disini, Koordinator dan kelompok berinisiatif mengolah tempe menjadi balado tempe. Pada pertemuan rutin, tempe dan balado diinformasikan ke anggota, mereka memberikan masukan untuk memperbaiki citarasa balado dan menentukan harga jual balado. Pertemuan juga menghasilkan pembagian kerja antar anggota dalam pembuatan dan pemasaran kurupuk puli, tempe, balado tempe.

Sambil jalan, terus dilakukan penyempurnaan kualitas tempe, kerupuk puli, dan balado tempe. Keahlian membuat ketiga produk tersebut juga disharekan kepada anggota dalam pelatihan yang dilaksanakan pada pertemuan arisan. Saat ini, usaha yang berjalan dengan baik adalah produksi dan pemasaran tempe kedelai hitam, balado ternyata kurang diminati karena harga Rp. 2000/bungkus mika kecil menurut masyarakat terlalu mahal, padahal untuk ukuran pasar di Kabupaten Madiun, harga Rp.2000/bungkus balado itu sudah sangat murah sekali.
Volume tempe yang dihasilkan kelompok naik turun, pada musim tanam dan panen, produksi berhenti, dimulai lagi setelah kegiatan di sawah selesai. Pembagian hasil dilakukan setiap hari produksi, yaitu untuk tenaga produksi, tenaga pemasar, modal, dan kas kelompok. Dari 3 Kg kedelai hitam, keuntungan yang dimasukkan dalam kas kelompok sebesar Rp. 2.500, untuk tenaga pemasar Rp. 100/batang tempe, dan untuk tenaga produksi sekitar ±Rp. 1250/orang.
Kesimpulan sementara dari perkembangan Kelompok Anggrek adalah semakin kuatnya harapan untuk mendapatkan hidup lebih baik dalam diri anggota melalui usaha tempe yang mereka kelola.
|
Kondisi Ekonomi KelompokPendapatan rumah tangga kelompok diperoleh dari pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani. Di luar musim panen dan tanam, keluarga tidak memiliki sumber pendapatan kecuali sebagai tenaga sortase dan pembuat tas. Tetapi, kedua kegiatan tersebut tidak bersifat rutin karena tergantung pada musim dan pesanan. Pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sortase atau tas sebesar Rp. 1.000/hr, hanya cukup untuk membeli tempe satu bungkus. Dengan kondisi ekonomi seperti ini makanan sehari-hari kelompok adalah tempe/tahu, nasi, sayur dan terkadang hanya berupa nasi dan sayur saja. Ikan, Ayam, atau daging menjadi menu yang hanya dijumpai pada saat hajatan dan hari raya.
Pada saat tidak ada pendapatan, kelompok memenuhi kebutuhan dari menjual simpanan gabah/beras atau menjual hewan ternak. Setiap keluarga memiliki hewan ternak berupa ayam dan kambing atau sapi. Jumlah hewan ternak yang dimiliki antara 3-5 per keluarga tergantung dari jenisnya. Bagi kelompok, hewan ternak adalah investasi jangka panjang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya darurat atau membutuhkan banyak dana seperti pendidikan, pernikahan, atau pengobatan.
Pendapatan dan pekerjaan yang sangat terbatas itulah yang menyebabkan kehidupan sebagain besar masyarakat berada di bawah garis kemiskinan, beberapa indikator yang dapat dilihat adalah rumah terbuat dari papan atau anyaman bambu, lantai terbuat dari tanah, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/minyak tanah, ditambah dengan kondisi jalan desa berupa jalan makadam, dan tanah.
Dengan segala kekurangan dan potensi yang dimiliki ibu-ibu inilah P3KH dilaksanakan. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi ibu-ibu serta mendorong mereka untuk mampu mengelola usaha. Setelah hampir 3 bulan berjalan, perkembangan P3KH dan ibu-ibu yang telah kami dampingi dan latih dapat digambarkan sebagai berikut:
Kelompok Melati, Dusun Wates, Desa Kedung Banteng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten MadiunKegiatan rutin kelompok adalah yasinan, arisan dan pertemuan rutin untuk membahas perkembangan usaha kelompok. Setiap pertemuan selalu dihadiri oleh seluruh anggota kelompok, kecuali anggota yang izin karena sakit atau ada keperluan keluarga.
Kelompok yang dikoordinatori oleh Ibu Suparti ini sejak terbentuk telah memiliki keinginan kuat untuk lepas dari kesulitan keuangan yang mereka hadapi, menurut carita ibu-ibu, di luar masa panen mereka terbiasa hanya makan 1 kali setiap hari atau makan tanpa lauk. Awalnya memang sedikit sulit untuk menumbuhkan semangat seluruh anggota untuk maju, tetapi dengan bukti, Ibu Suparti sedikit demi sedikit mencoba untuk menumbuhkan hal tersebut. Pendamping juga selalu memberikan motivasi dan membuka wawasan anggota mengenai manfaat dari pengembangan usaha kelompok. Jika mereka mau berusaha, tetap semangat dan tidak mudah menyerah, kesempatan untuk memperoleh pendapatan minimal 3 rb/hari secara rutin bukanlah sesuatu yang mustahil. Apalagi sudah terbukti pada Ibu Sulastri, pembuat Tempe.
Kembali kepada keinginan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, ibu-ibu sudah membuat rencana untuk mengelola usaha kelompok setelah kesibukan di sawah menurun. Waktu luang ibu-ibu dimulai sejak akhir Bulan April 2009. Walaupun belum ada dana stimulant, kelompok telah mencoba untuk memulai Produksi Tempe, Jamu, dan Keripik Tempe.
Pertanyaannya darimana mereka memiliki modal usaha? Dan darimana mereka tahu proses produksinya?
Modal usaha mereka dapatkan dari swadaya kelompok, setiap kelompok kecil urunan untuk percobaan produksi pertama. Ketika percobaab pertama gagal, mereka tidak patang arang dan terus mencoba sampai produk yang mereka hasilkan layak jual. Walaupun untuk satu kali produksi kebutuhan dana tidak terlalu besar, berkisar antara 15-30 ribu, kesadaran mereka untuk swadaya dan terus berusaha menjadi lebih baik patut diacungi jempol. Dalam diri ibu-ibu, sama sekali tidak terlihat orientasi memperoleh keuntungan sesaat yang bersifat negative seperti:
“saya mau aktif jika waktu yang saya keluarkan diganti dengan uang oleh program”, “ saya mau usaha jika program memberi saya modal yang cukup”, “saya tidak bisa memulai usaha karena uang yang diberi oleh program terlalu sedikit dan tidak cukup untuk modal yang saya butuhkan”, dan beragam sikap negative yang sering dijumpai pada saat pendampingan program pemberdayaan masyarakat.

Telah tumbuh semangat “kebersamaaan” yang ditunjukkan dengan pembagian kerja, dalam satu kelompok hanya ada satu orang yang membuat satu produk, yang lain bertugas untuk memasarkan. Sesama anggota boleh memberi masukan untuk memperbaiki kualitas produksi anggota lain. Mereka telah memulai impelementasi asas transaparansi dan komunikasi terbuka. Hebatnya semua anggota menyadari pentingnya keterbukaan dalam berkomunikasi, demi kebaikan kelompok, mereka memilih sikap lebih baik menyampaikan langsung walaupun sedikit menyakitkan daripada disimpan di hati dan dibicarakan dibelakang. Selain karena pertimbangan “kebersamaan’ spesialisasi usaha dilaksanakan karena pertimbangan kemudahan pemasaran produk, tidak mungkin ada banyak orang yang memproduksi satu usaha di pasar yang terbatas seperti di daerah lokasi program. Mereka juga memiliki sikap “legawa” artinya siapapapun dalam kelompok tidak boleh iri dengan anggota yang terlebih dahulu sukses, karena siapapun dalam kelompok harus saling tolong menolong, bahu membahu untuk meningkatkan kesejahteraan semua anggota kelompok.
Kemampuan produksi diperoleh secara otodidak. Untuk produksi tempe, Ibu Sulastri - pembuat tempe dari anggota kelompok melati - mendapatkan informasi tersebut dari ibu-ibu Nganjuk pada saat ToT Manajemen dan Pengembangan Kelompok yang diselenggarakan oleh manajemen program pada 24-25 Februari 2009 lalu. Begitu memiliki waktu luang, Ibu Sulastri mencoba membuat dan berhasil. Dorongan untuk mencoba juga diperkuat dengan adanya informasi turunnya dana stimulant, awalnya Ibu Suslatri membuat 2 kg. Setelah dana stimulant diterima, produksi ditingkatkan menjadi 6 Kg/hari dan berkembang menjadi 8 Kg/hr. Total sampai dengan Tgl 18 Mei 2009, ibu Sulastri telah memproduksi tempe selama 10 hari dengan jumlah produksi pada 5 hari pertama sebanyak 2 Kg/hr, jumlah produksi pada hari ke enam 6 Kg, dan jumlah produksi pada hari ke 7 sampai dengan Tgl 18 sebanyak 8 Kg/hr.
Pemasaran; Untuk sementara di jual sendiri dan dititipkan ke sesama anggota yang berjualan keliling kampung.
Tempe Kedelai Putih: Setiap 1 Kg kedelai menghasilkan 10 bungkus tempe yang dijual seharga Rp. 1000, keuntungan yang diperoleh untuk setiap 1 Kg nya adalah Rp. 1500. Berarti keuntungan total yang diterima dari 8 Kg kedelai yang diproduksi sebesar Rp. 12.000/hari. Keuntungan tersebut kemungkinan bisa bertambah, karena Ibu Sulastri masih berencana memperbesar volume produksi pada saat suami Ibu Sulastri membantu pemasaran dengan bersepeda keliling desa/kecamatan.
Menurut kelompok, saat ini tempe yang dibuat oleh Ibu Sulastri sudah menggeser pasar tempe produksi lain. Selain unggul volume, tempe Ibu Sulatri juga lebih enak karena terbuat dari kedelai murni, tidak seperti tempe yang ada di pasaran saat ini, tempenya terdiri dari campuran jagung dan kedelai. Ketika melihat ukuran tempe yang sangat besar, kami mengarahkan untuk sedikit memperkecil seperti ukuran tempe seharga Rp.1000 di Surabaya, Ibu Sulastri tidak mau karena itu adalah permintaan konsumen, Ibu Sulastri berani mengambil sedikit keuntungan asalkan konsumen puas.
Jamu; Pada saat produksi perdana jamu, modal yang dihabiskan sebesar Rp. 17.500. Menghasilkan jamu sebanyak 10 botol dengan harga perbotol Rp.2.000. Berarti keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.2.500. Akan tetapi keuntungan ini masih bisa tingkatkan karena jamu yang dihasilkan sangat kental dan sebenarnya cukup untuk dijadikan 15-20 botol. Rencana, akan dipasarkan dengan menggunakan sepeda berkeliling kampung setelah suaminya kembali dari rantau. Kedepan, kelompok berencana membuat minuman Sinom dan akan dijual ke Sekolah Dasar yang ada di desa dengan harga Rp. 500/bungkus.
Keripik Tempe; Modal yang digunakan pada produksi pertama sebesar 25.000, menghasilkan 10 bungkus keripik tempe yang dijual seharga 2.500. Omzet yang diperoleh 25.000, walaupun tidak ada laba, masih ada sisa minyak ½ Kg, plastik, dan tempe 1 buah yang belum diambil. Jika dinominalkan, sebenanrnya masih ada sisa modal sebesar 7 ribu
|
Pengajuan permohonan bantuan dana pengembangan usaha dari kelompok perempuan kepada Yasayan Unilever Indonesia diwarnai cerita menarik. Berdasarkan kesepakatan tidak tertulis antara YUI dengan SPeKTRA mengenai prosedur pencairan dana, kelompok disyaratkan untuk membuat surat kuasa pengajuan permohonan pencairan dana, penerimaan dana, dan pendistribusian dana bantuan tersebut. Ketika salah satu Koordinator kelompok sebagai pemberi kuasa hendak membuat surat kuasa, ada satu data yang tidak bisa diisi, yaitu no KTP. Ketika kelompok lainnya sudah selesai, si ibu masih kebingungan dengan data no KTP. Pasalnya, KTP si ibu "ketlisut" alias lupa naruhnya dimana. emmm, itu berarti si Ibu lama tidak menggunakan KTP-nya. Bandingkan dengan kita yang tinggal di kota, hampir setiap saat membutuhkan KTP, mau ambil uang di bank pakai KTP, mau pengajuan kredit pakai KTP, mau ambil tiket pakai KTP, ditilang polisi kadang menunjukkan KTP, nginep dan bayar hotel pakai KTP, dan ada banyak hal lain yang membutuhkan KTP. Jadi pada saat kita nggak pegang KTP (expired atau hilang) pasti kebingungan dan akhirnya cepat-cepat membuat KTP baru.
Bagaimana dengan kehidupan di desa..??? jarang sekali KTP dipakai, paling-paling kalau mau nikah aja. Ke bank..?? jangankan untuk buka tabungan, untuk nabung uang cash seribu setiap hari saja ibu-ibu kesulitan, selain pendapatan pas-pasan, kalau nabung uang cash katanya suka kepancing untuk ngambil...jadi mereka memilih menabung dalam bentuk hewan atau barang, seperti ayam, gabah, kambing, jagung, dll.
Kembali ke pembicaraan mengenai KTP, saya menyarankan si ibu untuk mencari identitas lain seperti SIM atau Buku nikah, biasanya kan ada no KTP di Buku nikah. Kata si Ibu, SIM nggak punya, karena kemana-mana menggunakan jalan kaki, pergi jauh...?? jarang, paling-paling dapat undangan Unilever dan SPeKTRA, itupun naik kendaraan umum bareng-bareng. Buku Nikah...??? KTP lama yang tertera di buku nikah nomornya beda dengan KTP baru yang "ketelisut" tersebut, kok bisa...??? terus bagaimana dong...?? yah, terpaksa kami memutuskan, khusus untuk kelompok tersebut tidak menggunakan no identitas, yang penting yang menerima kuasa, datanya lengkap.
Mengenai no KTP lama dan baru yang beda, memang saya tidak habis pikir. Kok bisa ya...?? harusnya kan nomornya sama, berarti ada yang tidak beres nih dengan pengadministrasian di pemerintah desa, karena biasanya perizinan pengajuan perpanjangan KTP dimulai dari tingkat rt, rw, kelurahan/desa baru ke kecamatan. Maklum saja DPT pada pileg ini kacau balau, salah satu contohnya adalah si ibu. Jadi menurut saya, pendapat para politisi yang menyatakan ada permainan/penggelembungan suara secara sistematis dari penguasa, kurang setuju. Nyatanya, selain contoh kecil perbedaan no ktp lama dan baru dari si ibu, banyak masyarakat yang memiliki KTP ganda bahkan triple. Ke depan, jika semua unsur masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk perbaikan negeri ini, seharusnya dilakukan pembenahan data penduduk, nantinya penyusunan DPT dapat berdasarkan KTP saja, tidak perlu di data ulang setiap mau pemilihan umum, karena hanya menghabiskan banyak uang negara. Memang membutuhkan kerjasama antar stakeholder yang baik, waktu, sistem, dan dana cukup banyak di awal. Jika sudah tertib, manfaatnya pasti akan banyak, jauh lebih efisien dan efektif.
|
Posted on March 19th, 2008 by cipta
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.
|

Ada seorang teman yang merasa hidupnya sangat sulit, selalu mengeluh dan mengeluh setiap waktu. Melihat wajahnya, serasa kita diundang juga untuk menyelami dan merasa betapa sulitnya hidup ini. Wajah kusam dan kuyu itu hampir tidak pernah terlihat tersenyum. Kami sangat berempati dan sering bertanya, ada apakah....??? dalam pandangannya, semua yang terjadi dalam hidupnya adalah penderitaan dan kesulitan. Sebaliknya, ada seorang teman yang wajahnya terlihat selalu bergembira. Sepertinya dia sangat bahagia dan tidak pernah menghadapi kesulitan, hidupnya serasa sangat mudah. Karena selalu bersama, saya tahu bagaimana dia.
Sebenarnya tidak ada bahagia dan susah dalam hidup ini, itu hanyalah bentuk respon kita dalam menghadapi kenyataan. Akan kita permudah ataukah persulit..? apapaun respon yang kita berikan, hidup toh tetap akan berjalan. Tinggal kita memutuskan untuk menghadapinya dengan perasaan enteng atau berat? jika kita menganggap bahwa itu adalah kegagalan, kesulitan dan kesusahan, kita pasti akan merasa dunia itu begitu sempit, sangat tidak bahagia, hidup itu begitu susah, bahkan untuk sekedar bernafas saja begitu sesak.
Padahal sebenarnya kenyataan itu tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kalau kita mau melihat lagi, ada banyak jalan keluar disana, karena Allah selalu memberikan sesuatu berpasangan, ketika kita dikasih kesulitan pasti sekaligus dikasih jalan keluarnya. Bukankah begitu..? Tinggal kita mau mencarinya ataukah tidak?? Jangan berhenti hanya pada masalahnya saja.
Sekarang, bagaimana sih agar kita merasa bahagia menghadapi hidup ini..?? coba deh tips ini.
Bangun pagi; berjalanlah keluar rumah. Rasakan hangatnya sinar matahari, hiruplah dalam-dalam udara pagi yang sejuk, rasakan segarnya. tatap birunya langit di pagi hari. Kalau sudah merasa nyaman, gerakkan badan dengan santai. Kemudian masuk rumah dan mandilah.
Mandi; rasakan sejuknya air, nikmati dan ucapkan rasa syukur karena Allah masih memberikan kita air, bayangkan kalau tiba-tiba kita hidup di daerah seperti Afrika sana yang tandus dan tidak ada air, untuk minum saja susah apalagi untuk mandi dengan air jernih yang segar dan murah......he he
Berangkat kerja; selama perjalanan, pikirkan alangkah bahagianya anda bisa pergi bekerja, mencari uang dan mendapatkan gaji. Hidup anda tidak kosong karena selalu ada rencana yang akan anda kerjakan, hidup anda memiliki arah. Bayangkan seandainya anda adalah pengangguran, selain tidak punya uang, pasti anda kebingungan karena tidak tahu mau melakuka apa sehari ini.
Ditempat kerja; sapa teman kerja dengan senyum, mereka pasti akan membalas dengan senyum juga. Point bagus kan...? anda sudah mendapatkan rerspon manis dan menyenangkan. Kerjakan tugas anda dengan semangat "give high performance for your job".
Dimarahi bos...?? ah, anggap itu bentuk perhatian dari bos, daripada dianggap "wujuduhu kaadamihi" sehingga tidak pernah disapa? jangan berharap penghargaan dari bos, karena biasanya "high expectation" akan mengakibatkan kita merasa sangat kecewa. jadi ketika suatu saat dipuji, itu adalah rezeki, betul nggak???
Tiba-tiba dikasih setumpuk pekerjaan plus waktunya mepet? syukuri itu, berarti anda dipercaya dan itu menjadi ajang anda mengetes kemampuan anda sendiri, bisa tidak...?? hidup anda dipenuhi dengan target, hidup menjadi bermakna. Bayangkan perasaan puas anda seandainya mampu menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu..??
Uang habis, padahal waktu gajian masih lama...?? ini sering terjadi pada karyawan kayak kita, gimana ya...?? kalau aku malah termotivasi untuk mengatur uang yang ada hingga cukup sampai akhir bulan. Kadang sih marah-marah juga, tapi tidak apa-apa asalakan tidak merasa hidup sudah berakhir disini. Kalau pas ada kebutuhan mendadak?? ya hutang aja sama teman, gampang kan...?? bayarnya gimana dong, kan gaji udah pas-pasaan..?? berarti bulan berikutnya siap-siap mengencangkan ikat pinggang. kalau nggak punya ikat pinggang....?? kok malah ngaco sich.
Jadi, kesimpulan dari tips-tips di atas adalah, berikanlah respon positif untuk hal apapun yang terjadi dalam hidup kita. Pikirkan hal baik-baik, kalau hidup kita sudah susah, jangan ditambahi dengan pikiran yang jelek-jelek yang membuat kita tambah terpuruk. Sama sekali tidak ada gunanya, hidup hanya sekali. So, janganlah dibuat susah, orang susah itu cepat tua lho.....!!! perbanyaklah bersyukur, pasti awet muda.
|



Koordinasi dengan kader di Kabupaten Madiun dilaksanakan Tanggal 24 Maret 2009. Roma, Lilik, Fadhil, dan Mimin sangat sangat berterimakasih kepada kader, karena ditengah kesibukannya bekerja di sawah mereka masih bisa menyempatkan diri hadir pada rapat koordinasi tersebut. Karena tidak ingin merepotkan ibu-ibu, jauh-jauh hari kami sudah berpesan bahwa konsumsi rapat akan disediakan oleh manajement dari Surabaya. Surprise....??? sesampainya di rumah Pak Agus (tempat koordinasi), ternyata banyak makanan sudah dihidangkan, lho...??? seakan mengetahui keheranan kami, Bu Katini bilang bahwa konsumsi rapat telah disediakan oleh Bu Agus..aduh baiknya istri Ketua KSU ini yahhhh??? seakan ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan dan perhatiannya dalam mendukung program ini.
OKe, setelah "ucapan terimakasih dan sambutan" disampaikan oleh Mas Fadhil, langsung menuju agenda utama, yaitu diskusi tentang rencana kegiatan, kendala, dan rencana usaha kelompok. Kami meminta masing-masing kelompok untuk menceritakan kendala implementasi ToT, kegiatan apa yang sudah dilaksanakan dan kegiatan apa yang akan direncanakan.
Kelompok Mawar dari Desa Kedung Banteng, Ketua Bu KatiniKegiatan yang sudah dan akan dilaksanakan oleh kelompok ini adalah:
Sosialisasi hasil ToT: beberapa hari setelah ToT dilaksanakan, kader mengumpulkan anggota kelompok untuk menyampaikan hasil ToT dan membahas tentang kegiatan apa yang akan dilaksanakan oleh kelompok. Kelompok menyepakati beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan setelah musim tanam selesai.
Arisan & Tabungan Sukarela: rencana akan dilaksankan pada Bulan April, melibatkan seluruh anggota kelompok dengan jumlah uang sebanyak Rp.2000/orang. Arisan bertempat di rumah Bu Katini dan akan diselenggarakan 2 minggu sekali pada hari Minggu. Selain untuk arisan, pertemuan ini juga digunakan untuk mengumpulkan tabungan sukarela dari seluruh anggota. Tabungan yang terkumpul akan digunakan untuk dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan, total pinjaman per anggota maksimal Rp.100.000.
Pengajian/Yasinan: kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan oleh ibu-ibu selama 3 tahun terakhir. Seperti biasanya, pengajian dilaksanakan setiap 2 minggu sekali pada malam rabu, tempatnya bergilir di setiap rumah anggota.
Usaha Jahit dan Keripik: ada beberapa orang dalam kelompok yang memiliki mesin jahit, kelompok sepakat usaha ini dijadikan usaha bersama. Usaha ini akan dimulai setelah ada pelatihan peningkatan kualitas produksi. untuk permulaan, mereka akan menjahit beberapa produk sesuai denga pesanan pembeli. Hasil dari usaha tersebut akan disisihkan untuk kas kelompok. Selain jahit, kelompok juga berencana untuk membuat usaha keripik pisang, ini tidak membutuhkan pelatihan karena mereka sudah bisa memproduksi.
Kelompok Anggrek dari Desa Krebet, Ketua Bu SuparmiPengajian; pengajian yang dimaksud adalah membaca yasin bersama-sama, dilaksanakan 2 minggu sekali setiap malam jum'at.
Arisan dan Tabungan Sukarela: Arisan dan tabungan dilaksanakan 2 minggu sekali pada hari minggu. Jumlah uang arisan Rp. 2000/orang. Sedangkan jumlah tabungan sukarela disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota. Tabungan sukarela yang terkumpul juga akan dipinjamkan kepada anggota, setiap bulan akan digilir dengan jumlah pinjaman sesuai dengan jumlah tabungan (tidak ada batasan maksimal).
Kerupuk Uyel; kelompok memutuskan memilih usaha kerupuk uyel karena beberapa alasan: (i) kerupuk menjadi bagian dari makanan pokok keluarga, (ii) masyarakat di Kecamatan Pilangkenceng belum ada yang memproduksi kerupuk uyel sendiri, untuk membeli kerupuk mereka harus menunggu pedagang kerupuk yang datang kadang 3 hari sekali. Karena mereka belum pernah membuat kerupuk uyel, jadi kelompok berharap ada pelatihan tentang usaha ini.
Kelompok Melati Dari Desa Kedung Banteng, Ketua Ibu SupartiKelompok ini juga melaksanakan kegiatan rutin sama dengan kelompok lainnya, yaitu yasinan dan tabungan sukarela. Mereka tidak mengadakan arisan karena merasa arisan terlalu sering dilaksanakan di lingkungan sekitar mereka. Untuk rencana kegiatan usaha, kelompok Bu Suparti berencana untuk mengelola home industri tempe dan jamur merang. Selain berbiaya murah (sebagain besar bahan baku bisa diperoleh dengan gratis), ibu-ibu sudah bisa membuat tempe sendiri. Untuk home industri tempe ini mereka akan segera memulai begitu panen selesai, modalnya berasal dari swadaya anggota. Sedangkan untuk usaha merang, mereka menunggu pelatihan (belum ada yang bisa). Karena kedua usaha ini termasuk usaha kelompok, maka mereka akan berbagi tugas, sebagian kelompok mengelola usaha tempe dan sebagian lagi mengelola usaha merang. Tempat usaha ada di satu lokasi, yaitu di rumah Bu Suparmi (tempe) dan rumah Bu Kasiani (jamur merang). Dalam pengelolaannya, mereka akan melakukannya dengan sistem piket. mengenai pembagian keuntungannya??? bagi ibu-ibu tidak penting memikirkan pembagian keuntungan saat ini, yang penting usaha jalan dulu, kalau sudah berjalan dengan baik, baru hal itu dipikirkan.
Kelompok Kamboja dari Desa Kedung Banteng, dipimpin oleh Ibu SutilahKegiatan kelompok ini sama seperti kelompok lainnya yaitu yasinan, arisan, dan tabungan sukarela. penggunaan tabungan sukarela akan digunakan untuk membantu anggota kelompok yang membutuhkan. Rencana usaha berupa usaha keripiik diantaranya singkong dan pisang. Karena sudah memiliki keahlian dalam produksi keripik, mereka menyatakan tidak membutuhkan pelatihan, jadi jika ada uang hibah dari Unilever akan digunakan untuk tambahan produksi. Sebagai awal, modal usaha berasal dari urunan anggota, jadi mereka akan memulai usaha ini setelah musim tanam selesai.
|

Tanggal 23 dan 24 Maret 2009, Manajamen Program bersama dengan pendamping dan kader di masing-masing lokasi program melakukan koordinasi penyusunan rencana kegiatan kelompok dan implementasi hasil ToT.
Koordinasi dengan kader Kabupaten Nganjuk bertempat di kantor kepala desa Kampung Baru. Hadir pada koordinasi Tanggal 23 Maret 2009 tersebut 8 orang kader dari 3 kelompok perempuan, Ibu Kepala Desa Kampung Baru, pendamping dan 3 orang manajemen program. Mengapa Ibu Kepala Desa hadir? Sebagaimana yang telah kami ceritakan, Kepala Desa Kampung Baru memiliki perhatian yang tinggi terhadap pemberdayaan masyarakatnya. Beliau sangat mendukung program ini dan mempersilahkan kelompok untuk menggunakan kantor kepala desa sebagai tempat beraktivitas kelompok (rapat, koordinasi, pertemuan). Kepala Desa juga mendorong istrinya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan, termasuk aktif dalam kegiatan kelompok (walaupun Ibu Kades tidak termasuk anggota), selain dapat mengasah kemampuan dan melatih kepercayaan diri Ibu Kades untuk berbicara di depan umum, kehadiran Ibu Kades juga dapat memberikan motivasi tersendiri bagi kelompok.
Wonderfull...!!, itulah kata yang tepat yang kami punya untuk mengapresiasi semangat yang ditampakkah kader, ditengah kesibukan panen dan tanam, ibu-ibu ternyata masih menyempatkan diri untuk melaksanakan kegiatan kelompok. Bahkan, kelompok telah memulai aktivitasnya seminggu setelah ToT, kira-kira Tanggal 2 maret 2009. Kader mengumpulkan anggota untuk menyampaikan hasil ToT dan merencanakan kegiatan kelompok. Ada 3 kegiatan rutin kelompok yaitu:
Arisan dan jimpitan; arisan dilaksanakan satu bulan sekali dengan jumlah uang Rp 10.000, Di Mukoh, kelompok mengadakan arisan seminggu sekali dengan jumlah uang Rp 5.000. Tempat arisan bergilir di rumah tiap-tiap anggota.
Jimpitan dilaksanakan dalam bentuk "menyisihkan segenggam beras atau menyisihkan uang belanja Rp 500 - Rp 1.000 setiap hari".
Jimpitan tersebut dikumpulkan ke koordinator kelompok pada saat arisan, selanjutnya uang yang terkumpul diberikan secara bergilir kepada seluruh anggota. Tujuan arisan dan jimpitan adalah membantu meringankan kebutuhan anggota kelompok dengan cara gotong royong.
Tabungan sukarela; Menabung sukarela (istilah yang digunakan kader) adalah kegiatan menyisihkan uang dengan jumlah sesuai kemampuan anggota (sukarela) yang bertujuan untuk saling membantu kesulitan yang dihadapi anggota kelompok. Tabungan sukarela dikumpulkan ke koordinator atau kader lain yang ditunjuk, setelah ada salah satu anggota yang tertimpa musibah atau kesulitan, kelompok akan memberikan bantuan dengan memberikan sejumlah uang/barang yang diambilkan dari tabungan sukarela kelompok. Jadi dengan adanya tabungan sukarela ini, anggota kelompok diharapkan tidak mengambil jalan "berhutang" untuk mengatasi masalah keuangannya.
Tabungan sukarela, jimpitan, dan arisan perlu dicatat dengan baik agar tidak terjadi konflik di kemudian hari. Kader menyatakan bahwa mereka perlu diberikan bimbingan dalam "pencatatan/pembukuan". Ini tugas pendamping dong....atau ada pihak lain yang ingin membantu perempuan...?? kami dengan senang hati akan menerimanya :)
Apotik Hidup/Penanaman Toga; Penanaman toga dilakukan di satu lahan khusus yang diakui sebagai milik bersama (biasanya di lahan salah satu anggota), bisa juga dikelola oleh masing-masing kader atau biasa disebut kelompok kecil (dalam kelompok ada 4-5 kader yang membawahi 4-5 anggota, kader beserta anggotanya inilah yang disebut kelompok kecil). Kelompok kecil menanam 2-3 tanaman toga yang berbeda dengan tanaman toga yang dtanam oleh kelompok kecil lainnya dalam satu kelompok besar. Sementara ini, tujuan penanaman toga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga anggota, kedepan, jika hasilnya banyak, kelompok akan menjualnya dalam bentuk bahan baku atau produk olahan, seperti jamu instan/bubuk atau minuman. Dari 3 kelompok perempuan, kelompok dari Desa Gambirejo dan Kujon Manis telah mulai mananam tanaman toga, kelompok dari Desa Kampung Baru masih mempersiapkan lahan, Kelompok dari Desa Mukoh masih akan membahas persiapannya dengan anggota.
Rencana Usaha; Kelompok perempuan dari Desa Gambirejo/Kujon Manis dan kelompok perempuan dari Desa Mukoh berencana untuk mengembangkan budidaya lele. Alasannya, budidaya lele tidak membutuhkan lahan luas (karena medianya hanya berupa tong, air, dan lumpur), perawatannya mudah, dan ada pasar yang siap menyerap hasil produksi mereka (antara lain pasar ikan yang ada di kecamatan, bakul ethek-ethek, pasar tradisional, warung makan). Tetapi karena sebelumnya belum ada anggota kelompok yang melakukan budidaya lele, mereka meminta diadakan pelatihan pembuatan media dan cara perawatan lele. Kelompok semakin yakin dengan usaha ini karena melihat keberhasilan budidaya lele di Pare, Kediri yang dilakukan anak salah satu kader dari Desa Mukoh. Lokasi budidaya akan dipusatkan di satu tempat dengan melibatkan seluruh anggota kelompok dalam perawatannya.
Kelompok perempuan Desa Mukoh juga berencana untuk mengembangkan tanaman Rosela, saat ini telah disiapkan lahan khusus milik salah satu anggota yang akan ditanami rosela. Karena sudah memiliki pengalaman, kelompok merasa tidak membutuhkan pelatihan. Penanaman dan perawatan rosela akan melibatkan seluruh anggota kelompok dengan sistem piket. Pemasaran rosela relatif mudah karena ada beberapa suplier yang siap menampung rosela hasil budidaya kelompok.
Kelompok perempuan dari Kampung Baru berencana membuat usaha budidaya jamur tiram dengan alasan mudah mendapatkan bahan baku media, mudah dipasarkan, dan sebagai tambahan gizi keluarga. Mereka berencana untuk mengelola usaha tersebut melalui kelompok-kelompok kecil dengan sistem piket.

ToT Manajemen Kelompok dan Keuangan Rumah Tangga dilaksanakan Tanggal 24-25 Februari 2009 bertempat di Gedung Diklat Pemerintah Kota Madiun, Jl Duku No. 1, Gulun, Kabupaten Madiun. Kegiatan yang dihadiri oleh 34 kader dari Kabupaten Madiun dan Nganjuk ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan PKH mengenal peran dan potensi dirinya, mampu mengelola organisasi dengan baik, serta mampu mengelola keuangan rumah tangga dengan bijak sebagai prasyarat menjadi keluarga mandiri dan berdaya.
Output yang diharapkan dari pelaksanaan ToT adalah:
1. Peserta dapat memahami tujuan, manfaat berkelompok dan cara mengelola kelompok dengan baik.
2. Peserta menyadari peran dan potensinya dalam keluarga sehingga lebih termotivasi untuk meningkatkan perannya bagi kesejahteraan keluarga.
3. Meningkatnya motivasi peserta untuk berkelompok dan mengembangkan kelompok.
4. Peserta memahami alasan pentingnya mengelola keuangan rumah tangga dengan baik dan cara membuat anggaran keuangan rumah tangga.
5. Peserta memiliki sikap bahwa membuat anggaran rumah tangga, disiplin terhadap anggaran dan menabung itu penting bagi terwujudnya keluarga yang mandiri dan berdaya.
ToT dilaksanakan dengan metode diskusi, games, dan simulasi. Digunakannya games dalam penyampaian materi bertujuan agar kondisi pelatihan menjadi nyaman dan menyenangkan bagi peserta, sehingga timbul semangat dan gairah untuk mengikuti pelatihan. Digunakannya metode diskusi dan simulasi bertujuan untuk menciptakan situasi bahwa pengalaman, pengetahuan, dan ide peserta sangat berharga dan penting. Ketika merasa dihargai, peserta menjadi lebih percaya diri dan berani menyampaikan pendapat dan ide, diskusi berjalan hidup karena seluruh peserta melibatkan diri secara aktif. Pada akhirnya, proses pembelajaran akan berjalan dengan sangat efektif karena peserta cepat menyerap pengetahuan dan keahlian yang ditransfer dalam ToT, bukan hanya pengetahuan teoritis, juga keahlian teknis yang diperoleh dari "belajar dari pengalaman".
Pelaksanaan ToTAcara ToT dimulai dengan Pengorganisasian Kelas. Fasilitator menjelaskan tentang bagaimana pelatihan akan dilaksanakan, apa saja materinya, siapa fasilitatornya, siapa pesertanya, dengan metode apa materi akan disampaikan, serta menetapkan peraturan selama pelatihan berlangsung. Peraturan yang disepakati adalah:
a. Tidak boleh terlambat; jika terlambat dikenakan hukuman menyanyi sambil berjoget.
b. Tidak boleh mengantuk/tidur didalam kelas
c. Tidak boleh menerima telepon di dalam ruangan kelas
d. Setiap keluar kelas harus meminta izin kepada ketua kelas/fasilitator
Kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya .......selama pelatihan tidak terlihat satupun peserta yang mengantuk, menerima telepon di dalam ruangan kelas, keluar kelas karena izin apapun (entah taat atau karena begitu tertariknya dengan pelatihan, padahal menurut cerita sebagian besar peserta, mereka tidak bisa tidur karena masuk angin, maklum mayoritas peserta tidak terbiasa dengan AC, namun begitu, tidak satupun yang komplain atau izin ke kamar belakang di hari pertama pelatihan, dan tidak satupun peserta yang terlambat memasuki ruang pelatihan, rata-rata mereka hadir 20-30 menit sebelum materi dimulai. SALUT deh buat ibu-ibu,HEBAT......!!!!
Setelah peraturan disepakati, waktunya sesi perkenalan diri. satu persatu fasilitator dan peserta memperkenalkan diri dalam bentuk permainan “KU TAHU YANG KU MAU”. Peserta dari Nganjuk dan Madiun diminta untuk berpasangan dan diberi waktu 5 menit untuk berkenalan. Fasilitator, secara acak memanggil satu nama peserta. Nama yang dipanggil maju ke depan audience bersama pasangannya untuk memperkenalkan diri dengan cara melakukan gaya tentang dirinya dan harus ditebak oleh pasangannya. Setelah selesai, pasangan tersebut menunjuk pasangan yang lain, begitu seterusnya. Permainan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kedekatan peserta dan meningkatkan kemampuan komunikasi non verbal. Pasangan yang mampu menebak paling banyak memperoleh hadian dari fasilitator. Permainan ini berjalan cukup seru, melihat ibu-ibu bergaya sungguh menyenangkan, apalagi melihat wajah kebingungan ibu-ibu ketika berusaha menebak. gelak tawa seketika pecah melihat gaya kocak ibu-ibu, suasana beku sebelumnya langsung meleleh. Sangat menyenangkan tertawa bersama ibu-ibu.
Peserta semakin bersemangat dan bergairah ketika Ibu Maya Tamimi (Yayasan Unilever Indonesia) dan Pak Roni S. Sya'roni (Direktur SPeKTRA) membuka sesi dengan menyampaikan materi CSR dan Motivasi dengan sangat menarik. Senyum, keramahan dan joke yang ditampilkan oleh beliau-beliau menjadi magnet yang langsung membetot perhatian peserta, ditambah dengan yel-yel pembangkit motivasi yang diberikan oleh pak Roni “AKU MAU SUKSES!” merupakan
sarting point yang sangat bagus bagi pelaksanaan ToT.
Situasi dan kondisi awal pelatihan sudah sangat kondusif, untuk menjaga kondisi tersebut fasilitator selalu menyisipkan
ice breaker di setiap sesi. Seperti permainan “TANGKAP KUCING” berikut.

Peserta berdiri melingkar, telunjuk tangan kanan dan kiri diletakkan dibahu, setiap mendengar kata kucing dalam cerita yang disampaikan oleh fasilitator, tangan kanan peserta berusaha menangkap telunjuk kiri peserta yang berdiri disebalah kanannya sambil berusaha menghindar agar telunjuk kirinya tidak dapat ditangkap peserta yang berdiri disebelah kirinya. Cerita tersebut kadang menjebak peserta, sehingga yang disangka akan diucapkan kucing ternyata kata meong atau hewan yang bersuku kata “ku”. Begitu tahu terjebak, kami semua tertawa, tetapi kembali berkonsentrasi menyimak cerita sambil bersiap-siap “menangkap” dan “menghindar”, begitu mendengar kata ”kucing” serentak peserta berusaha menangkap telunjuk teman disebalah kananya dan berusaha dengan beragam cara menghindar agar telunjuk kiri tidak ditangkap, ada yang menyembunyikan telunjuk kirinya dibalik ketiak, dibelakang badan, atau mengacungkan telunjuknya setinggi mungkin. Sebaliknya, yang lain juga berusaha menangkap dengan beragam cara, jadi kadang terlihat beberapa rangkaian orang yang sudah berhasil menangkap dan ditangkap terpontang-panting karena satu orang yang ada diujung berusaha agar telunjuk kirinya tidak tertangkap, atau segerombolan ibu-ibu yang muter-muter karena berusaha menangkap telunjuk temannya yang diumpetin dibelakang punggung. Sangat menghebohkan, ramai dan dipenuhi tawa. Secapat kilat menangkap dan sekuat tenaga menghindar, wah ibu-ibu....melihatnya dalam situasi demikian tidak menyangka bahwa sebagian besar dari mereka sudah berusia uzur.
Sesi Pengembangan KelompokDalam sesi "Pengembangan Kelompok", peserta diberi penjelasan teori tentang kelompok, pengembangan kelompok, dan unsur-unsur kelompok. Teori-teori tersebut selanjutnya disimulasikan dalam sebuah permainan kelompok berjudul “OPER PENSIL”.
Peserta dibagi 4 kelompok dengan anggota masing-masing 8 orang. Mereka diberi tugas untuk mengoper pensil dengan menggunakan dua jempol. Sebelum dimulai, kelompok diberi waktu berkoordinasi memikirkan strategi jitu untuk memenangkan permainan. Fasilitator sengaja memberikan instruksi kurang jelas di awal permainan, ketika 2 regu sudah mulai berlomba, fasilitator sedikit demi sedikit memperjelas instruksi, satu kelompok gagal karena bingung dengan instruksi yang diberikan fasilitator. Babak selanjutnya, instruksi dan aturan permainan diberikan dengan jelas kepada 2 regu yang berlomba. 2 regu tersebut ternyata gagal di tengah jalan (pensil jatuh). Karena hanya ada satu regu yang berhasil, fasilitator berniat mengulang kembali perlombaan kedua regu tersebut. Keputusan ini langsung diprotes oleh regu yang kalah dibabak pertama, mereka bersikeras melarang karena pensil jatuh berarti gagal, sebaliknya 2 regu yang merasa keputusan tersebut menguntungkan bersikeras untuk diulang, satu pihak menganggap keputusan fasilitator tidak adil, satu pihak mendukung fasilitator. Akhirnya Fasilitator tetap pada keputusan melanjutkan perlombaan. Setelah permainan selesai, fasilitator meminta
peserta untuk merangkum hasil permainan, termasuk bagaimana cara kelompok menyelesaikan konflik seperti yang terjadi dalam permainan tadi. Peserta dengan cepat menyebutkan apa saja yang harus dimiliki oleh kelompok, diantaranya adalah: kerjasama yang baik, anggota harus kompak, ada koordinasi dan komunikasi, memiliki strategi, aturan kelompok harus jelas, konflik harus cepat/segera diatasi dengan baik, sikap saling mengalah antar anggota untuk kepentingan bersama.
Sesi Manajemen Ekonomi Rumah TanggaSesi “Manajemen Ekonomi Rumah Tangga” disampaikan dengan menggunakan metode simulasi. Fasilitator mengajak peserta untuk menyadari betapa pentingnya membuat perencanaan keuangan rumah tangga. Dengan menggunakan metode simulasi, fasilitator menyadarkan peserta bahwa manusia akan menghadapi kejadian yang diharapkan dan tidak diharapkan, manusia memiliki kebutuhan saat ini dan akan datang. Apa yang dilakukan peserta ketika menghadapi kejadian yang tidak diharapkan dan apa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjangnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diminta untuk menelusuri kebutuhan/pengeluaran dalam periode tertentu dan menelusuri sumber-sumber penghasilan dalam periode tertentu. Pada saat diminta menelusuri peserta agak kesulitan, karena selama hidup peserta tidak terbiasa berpikir darimana pendapatannya dan kebutuhan kedepan apa saja, mereka terbiasa dengan pola pikir mencari makan untuk hari ini dan dihabiskan untuk hari ini. Memang agak berat mengajak peserta, apalagi yang belum pernah mengecap bangku sekolah untuk berpikir tentang pendapatan dan pengeluaran. Walaupun harus pelan-pelan, akhirnya mereka bisa menelusuri pendapatan dan pengeluarannya. Dari hasil penelusuran tersebut, peserta kemudian diajak untuk membuat perencanaan keuangan (penganggaran). Anggaran keuangan rumah tangga dapat menjadi
guidance bagi perempuan untuk mengatur pendapatannya dengan bijak. Mengenai kesadaran menabung, sudah mereka lakukan dalam bentuk gabah, hewan ternak, dan arisan. Mereka kurang menyukai menabung dalam bentuk uang karena selalu tergoda untuk mengambilnya. Kesimpulan dari sesi ini adalah; (i) peserta telah memiliki kesadaran menabung dan sebagian besar menggunakan “tabungan’nya untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang/menghadapi kejadian yang tidak diinginkan, (2) peserta masih belum sepenuhnya menyadari bahwa perencanaan keuangan itu perlu dan menganggap perencanaan keuangan itu rumit, oleh karena itu masih perlu pendampingan dan penyadaran lebih lanjut yang dilakukan secara terus menerus oleh pendamping.
Sesi Penyadaran Peran dan Potensi PerempuanDalam sesi “Peran dan Potensi” Fasilitator mengajak peserta untuk mengenal perannya dalam keluarga melalui “melihat kembali kedalam diri untuk mengenal siapa saya dalam keluarga” kemudian menuliskan dan membacakan peran apa yang mereka ketahui. Ternyata mayoritas peseta hanya menyadari perannya sebagai ibu dan istri saja. Fasilitator menunjukkan gambar-gambar dalam slide untuk menuntun peserta mengetahui bahwa peran perempuan selain ibu dan istri adalah pengelola rumah tangga, pencari nafkah, dan pekerja dalam satuan rumah tangga. Sampai kepada eksplorasi peran perempuan sebagai ibu (slide menampilkan puisi disertai nyanyian “bunda”), suasana benar-benar sunyi dan mulai terlihat beberapa peserta menitikkan airmata, ketika fasilitator mendeklamasikan puisi tersebut beberapa peserta terlihat menangis. Untuk menghentikan keharuan, fasilitator melontarkan pertanyaan “apa perasaan peserta ketika mendengar puisi dan lagu tersebut”. Mereka menjawab terharu dan ingin merubah dirinya, tidak ada kata terlambat untuk berubah dan memperbaiki diri, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Seorang ibu dari Madiun menyatakan bahwa ketika mendengar lagu tersebut ia teringat kepada anaknya yang bekerja di luar negeri dan perhatian yang diberikan untuk ibunya walaupun terpisah jarak yang sangat jauh. Saat ibu tersebut berbicara sambil tersendat-sendat tidak hanya peserta yang terbawa suasana, kedua Fasilitator pun ikut-ikutan menangis (fasilitatornya cengeng ya?). Sesi ini dinilai berhasil karena selain mampu menyadarkan peserta akan peran dan potensinya juga memberikan semangat kepada mereka untuk berubah menjadi perempuan yang lebih baik terutama menjadi ibu dan istri yang hebat. Di akhir sesi, fasilitator bahkan mendapatkan ucapan terimakasih dari beberapa peserta karena mereka telah disadarkan dari sikap dan perilakunya yang salah kepada anak.
|
Sebelum Program berjalan, Tim Fasilitator telah melakukan pemetaan kondisi sosial perempuan petani dengan tujuan mengetahui potensi, masalahan dan kebutuhan mereka. Dengan begitu, model-model pendampingan, cara pendekatan, dan aktivitas yang dilaksanakan oleh pendamping nantinya diharapkan selaras dengan karakter perempuan petani. Harapannya, dalam diri perempuan petani timbul perasaan bahwa kegiatan-kegiatan program adalah kegiatan yang mereka usulkan sendiri dan dapat menjawab kebutuhan mereka, sehingga timbul rasa memiliki (
sense of belonging) yang tinggi terhadap program, terhadap pencapaian tujuan program. Perempuan dan fasilitator akhirnya bersama sama saling bahu membahu berupaya melaksanakan kegiatan program dengan komit dan semangat tinggi, amin....
Penilaian dan kesimpulan mengenai kondisi sosial perempuan PKH dilakukan sekitar satu bulan setelah pendamping membaur bersama perempuan. Ada beberapa variable yang diamati diantaranya profile dan ketertarikan/gairah perempuan terhadap program. Variabel-variabel tersebut diamati sejak proses sosialisasi sampai dengan pembentukan kelompok. Penilaian ini bersifat subjektif, oleh karena itu jika ternyata ada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda kami membuka diri untuk menerima masukan.
Perempuan PKH Kabupaten MadiunProfile PerempuanUsia
Mayoritas perempuan PKH yang bergabung dengan kelompok berusia diatas 40 tahun. Paling muda berumur 19 tahun dan paling tua berumur 80 tahun
Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan perempuan PKH mayoritas adalah lulusan SD/Sederajat, jumlahnya mencapai 69 orang dari 100 orang PKH.
Pekerjaan
Pekerjaan sebagian besar perempuan PKH selain menjadi ibu rumah tangga adalah bekerja di sektor pertanian yaitu sortasi kedelai (49%), petani (21%), dan buruh tani (19%). Sebagian kecil saja yang bekerja di sektor perdagangan, kerajinan dan jasa
Gairah/ketertarikan perempuan untuk terlibat dalam program Ketertarikan perempuan untuk terlibat dan aktif dalam program dapat dilihat dari antusiasme yang ditampakkan ketika mendengar informasi adanya program pemberdayaan perempuan. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mengandung respon positif seperti “kegiatannya apa saja? apakah kami akan diberi pelatihan? pelatihannya tentang apa?”. Satu hal yang sangat memudahkan kerja pendamping adalah telah terbentuknya kelompok perempuan sortasi di Desa Krebet dan Kedung Banteng (walaupun pengelompokan tersebut masih sebatas pengelompokan daerah kerja sortasi). Bahkan, kerjasama yang sangat bagus ditampakkan oleh perempuan dalam tahapan “pendataan perempuan dan pembentukan kelompok”. Pendataan awal perempuan PKH dilaksanakan melalui metode Rapid Rural Appraisal (RRA), pendamping mendatangi ketua KSU dan meminta nama-nama tokoh kunci perempuan di setiap kelompok sortir. Kepada tokoh-tokoh kunci tersebut, pendamping meminta nama-nama yang bersedia untuk terlibat dalam P3KH, berkoordinasi dengan mereka untuk menentukan siapa yang akan menjadi kader dan kapan waktu yang tepat untuk membentuk kelompok. Setelah waktu disepakati, tokoh kunci-lah yang bergerak mengundang perempuan calon anggota kelompok.
Partisipasi perempuan dalam pembentukan kelompok sangat tinggi, 100% undangan hadir tepat waktu, mereka juga telah menyiapkan nama kader beserta anggotanya, serta telah menyepakati siapa yang akan menjadi koordinator kelompok. Keaktifan perempuan sangat terlihat ketika sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan yang dilontarkan cukup berkualitas karena berkaitan langsung dengan pemahaman terhadap program, peran mereka nanti, tugas mereka, tujuan program, dls. Pendataan profil perempuan juga berlangsung dengan sangat mudah, form isian diminta oleh masing-masing kader untuk dibagikan kepada anggotanya, mereka dengan kesadaran sendiri langsung menyepakati kapan form tersebut dikumpulkan. Bahkan, kelompok terlihat tidak sabar untuk mengemukakan usulan kegiatan, hampir disetiap pembentukan kelompok diakhiri dengan pengajuan usulan-usulan kegiatan dari anggota kelompok.
Perempuan PKH Kabupaten NganjukProfile PerempuanUsia
Jumlah perempuan PKH yang berusia 40-50 tahun, 31-40 tahun, dan 21-30 tahun hampir sama banyaknya. Dengan rentang usia tidak tertalu jauh antara satu perempuan PKH dengan perempuan PKH lainnya, transfer knowledge relatif lebih mudah dibandingkan dengan objek yang memiliki perbedaan umur yang terlalu tajam.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan perempuan PKH mayoritas adalah lulusan SMP/Sederajat dan SD/Sederajat. SMA dan diploma ada, tetapi jumlahnya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan perempuan yang tidak sekolah. Tetapi dibandingkan dengan Madiun, tingkat pendidikan perempuan PKH Nganjuk lebih tinggi.
Pekerjaan
Variasi pekerjaan perempuan PKH Nganjuk sangat rendah, mayoritas adalah ibu rumah tangga yang bekerja sebagai sortir kedelai. Sebagian kecil yang bekerja sebagai pedagang dan guru.
Gairah/Ketertarikan Perempuan Terhadap ProgramKetertarikan perempuan PKH terhadap program di tahap awal kurang begitu terlihat. Ketika pendamping melakukan sosialisasi informal dan pendataan, 5 dari 10 perempuan sortir di Gambirejo dan Kujon Manis yang didatangi oleh pendamping menolak untuk terlibat karena alasan kurang tertarik dan tidak percaya terhadap keseriusan dan manfaat program. Rupanya mereka masih trauma dengan kebohongan beberapa pihak yang sempat menjanjikan program, tetapi kenyataannya tidak pernah terealisasi. Hal serupa juga terjadi pada saat pendamping mengajak satu perwakilan perempuan untuk pergi ke Jogja, 2 orang pertama yang direkomendasikan oleh Kepala Desa Kampungbaru menolak karena alasan sibuk, baru orang ketiga yang mau. Pengalaman dari jogja rupanya memberikan keyakinan kepada ibu-ibu bahwa SPeKTRA serius dengan program ini, sehingga pada saat pendataan, pendamping tidak kesulitan mendapatkan perempuan PKH di Desa Kampung Baru. Sebaliknya, ketertarikan perempuan di Dusun Gambirejo dan Kujon manis belum sebaik Kampung Baru, terbukti dari minimnya perempuan yang mau terlibat. Oleh pendamping, perempuan dari dua desa tersebut digabung menjadi satu kelompok. Karena hanya ada 2 kelompok dari 3 desa, pendamping berinisiatif membuat satu kelompok lagi di Desa Mukoh (lokasi sebagian besar kedelai hitam ditanam, 3 desa lainnya lebih banyak ke sortasi), disini pendamping berhasil membentuk kelompok perempuan walaupun pada tahap awal hanya ada 10 orang yang terlibat.
KesimpulanPendidikan perempuan PKH Nganjuk lebih tinggi dibandingkan dengan Madiun, tetapi sebagian besar mereka lebih banyak terlibat di pekerjaan domestik, berbeda dengan perempuan PKH Madiun yang tidak hanya memainkan perannya di ranah domestik, mereka juga berperan dalam menunjang perekomonian keluarga dengan bekerja apa saja tidak hanya sortir, mereka ikut bertani, menjadi buruh tani, mereka beternak, menjadi pengrajin anyaman tas, dls. Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan di luar rumah itulah sehingga tanpa sadar mereka memiliki sikap positif terhadap perannya dalam rumah tangga, mereka cenderung lebih terbuka terhadap perubahan (resistensi rendah) dan memberikan respon positif terhadap P3KH. Berbeda dengan perempuan PKH Nganjuk yang terbiasa dengan perannya hanya sebagai ibu rumah tangga, apalagi di dukung dengan pengalaman kurang menyenangkan dengan program-program pemberdayaan, mereka cenderung apatis, pasif, dan memiliki resistensi cukup tinggi dengan keberadaan program.
P3KH adalah singkatan dari Program Pemberdayaan Perempuan Petani Kedelai Hitam yang diselenggarakan oleh Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan LSM SPeKTRA. Program tersebut merupakan pendukung dari program Pemberdayaan Komunitas Petani Kedelai Hitam (bahan baku utama kecap Bango) yang dilaksanakan sejak Tahun 2001 oleh Yayasan Unilever Indonesia bersama dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Di Jawa Timur, Program Pemberdayaan Komunitas Petani telah dilaksanakan sejak Tahun 2007-2008 di Nganjuk, Madiun, Ngawi, dan Pacitan.
Sesuai dengan pemahaman CSR yang dianut oleh Yayasan Unilever Indonesia, yakni sebagai total bussiness impact, dimana CSR bukan hanya difahami sebagai kegiatan filantropi atau kedermawanan semata, tetapi juga memuat unsur pemberdayaan masyarakat. Maka, pemberdayaan petani kedelai hitam - yang selama ini lebih banyak melibatkan bapak-bapak petani- akan ditingkatkan kemanfaatannya dengan melaksanakan satu program yang secara spesifik menempatkan perempuan sebagai sasaran utama program. Kenapa? karena selama ini perempuan terkesan agak terabaikan oleh program pemberdayaan perempuan lainnya, padahal upaya pemberdayaan keluarga akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar seandainya ibu-ibunya juga diberdayakan. Bagaimanapun, perempuan memegang peranan yang sangat penting dalam keluarga, mereka adalah pengelola rumah tangga, istri, ibu, pekerja dalam satuan rumah tangga, bahkan bisa juga berperan sebagai pencari nafkah.
Oleh karena itu, Pada tahun 2009 Program Pemberdayaan Perempuan Petani Kedelai Hitam untuk pertamakali dilaksanakan di Kabupaten Nganjuk dan Madiun dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri perempuan, menambah pengetahuan perempuan melalui pelatihan, studi banding dan pendampingan, serta meningkatkan kemampuan berusaha dalam mengelola sektor pertanian sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh perempuan.
Program yang dilaksanakan sepanjang Bulan Januari sampai dengan Agustus ini melibatkan 7 kelompok perempuan petani dengan total anggota 160 perempuan. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 40 orang menjadi kader yang akan menjadi motor penggerak pemberdayaan perempuan dan menyebarkan kesadaran akan peran dan potensi perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga kepada perempuan lain dalam kelompok maupun diluar kelompok.
|